Beramal saleh, sembunyikanlah!

Puasa Roni Haldi Alimi
Pilihan oleh Roni Haldi Alimi
Beramal saleh, sembunyikanlah!
Beramal saleh, sembunyikanlah! © Fajri Hidayat | Dreamstime.com

Rasulullah SAW telah mengabarkan dalam sabdanya yang diriwayatkan Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dalam Shahih Bukhari dan Muslim dan juga Imam Malik dalam Muwaththa’ di Kitab Syi’ar.

“Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.”

Beramal saleh, sembunyikanlah

Angka tujuh pada hadis diatas bukanlah ingin membatasi memadai amal saleh hanya untuk tujuh macam dari tujuh golongan saja. Tapi maksudnya adalah mafhumul ‘adad gharu Murad atau disebut tujuh bukan bukan berarti dibatasi angka itu saja. Begitulah diistilahkan oleh para ulama Ushul fiqh.

Amal saleh yang tak tampak disembunyikan ternyata miliki ganjaran pahala yang tinggi lagi mulia. Perhatikanlah, apa rahasia dari hadis tersebut yang mengabarkan adanya naungan dari yang Maha Menaungi dihari tiada naungan yang lain kecuali dari-Nya.

Hadis tersebut menyiratkan makna yang mendalam. Disana ada keikhlasan hati dalam ketersembunyian diri dalam beramal saleh. Itulah rahasia besar yang tersembunyi.

Tengoklah sejenak pada ibadah puasa Ramadan, ternyata ganjaran pahala yang dijanjikan oleh Allah SWT juga berbeda diperlakukan bila dibandingkan dengan amalan ibadah lainnya.

Khusus puasa Ramadan, telah Allah Taala kabarkan melalui hadis Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, dalam Shahih Bukhari, jilid 7 diriwayatkan oleh Abu Hurairah tentang keutamaan puasa Ramadan.

“Setiap amal saleh telah Allah Taala  tetapkan pahala ganjarannya, satu kebaikan, sepenuh kebaikan, atau bahkan tujuh ratus kali lipat kebaikan. Namun puasa Ramadan ganjara pahalanya Allah sendiri yang memberi ganjarannya. Karena puasa Ramadan untuk-Ku, maka Aku sendiri yang membalasnya. Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untukku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung.”

Kekhususan ganjaran pahala puasa Ramadan

Al-Hafidz Imam Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari menjelaskan kekhususan ganjaran pahala puasa Ramadan.

“Ketika amal saleh yang lain dapat mudah terserang penyakit riya, maka puasa tidak ada yang dapat mengetahui amalan tersebut kecuali Allah, maka Allah sandarkan puasa kepada Diri-Nya.”

Ibnu Qayyim Al-Jauzi rahimahullah berkata: “Semua ibadah terlihat amalannya. Dan sedikit sekali yang selamat dari godaan riya, berbeda dengan puasa.”

Sejalan dengan apa yang dimaksudkan Ibnu Qayyim Al-Jauzi, Ibnu Abdul Bar berkata: “Cukuplah ungkapan ‘Puasa untuk-Ku’ menunjukkan keutamaannya dibandingkan ibadah-ibadah lainnya.

Ibadah puasa Ramadan adalah amalan bathiniyyah atau sirriyyah, tersembunyi lagi rahasia. Puasa Ramadan itu bentuk rahasia seorang hamba dengan Tuhannya, tidak ada yang mengetahui melihatnya kecuali Allah SWT.

Kesepian dalam kesendirian tanpa ada yang melihat, tak menjadikan orang yang berpuasa lantas melanggar pantang dan larangannya. Kesendirian tersembunyi karena diselimuti keikhlasan hati yang tinggi mendorong diri malu hati berbuat curang menipu berlindung dibalik keadaan.

Rahasia lagi tersembunyi itu ternyata mampu menjaga utuh keikhlasan hati diri. Dan kebersamaan lagi tampak terbuka itu ternyata bisa menggangu keutuhan ikhlas di hati.

Menjaga hati untuk ikhlas dalam beramal

Sama halnya dalam keseharian, kebersamaan dan kedekatan yang terus menerus ternyata bisa menggali jebakan berbahaya mampu menodai kebersamaan itu sendiri.

Perlu adanya ketersediaan waktu sendiri keterasingan jauh dari keramaian kebersamaan untuk beramal saleh. Karena seringkali kesendirian kita menjaga hati untuk ikhlas dalam beramal.

“Berkumpulnya orang-orang beriman tetap menyimpan marabahaya yang patut diwaspadai. Tatkala perkumpulan itu saling menglindungi dan membenarkan, kebersamaan melebihi kebutuhan yang bisa menghalangi diri memihak keadilan dan kebenaran.”

Begitulah kata Imam Ibnu Qayyim Al-Jauzi dalam kitabnya Al Fawaid, halaman 60.

Kebersamaan dalam keramaian perlu jeda dan jarak jangan keseringan. Kedekatan dan kebersamaan berlebihan mampu menggiring mengarahkan diri agar bersikap menilai membaik-baikkan tanoa objektif melihat kekurangan.

Diri kita perlu akan masa sendiri lagi tersembunyi untuk melakukan berbagai amal saleh. Tak diketahui oleh siapapun, agar hati ikhlas disaat diri beramal saleh.

Puasa Ramadan telah jelas siapa yang memberi ganjaran pahalanya. Tak perlu penilaian orang lain yang mempengaruhi keikhlasan. Puasa Ramadan itu bukan untuk kita, apalagi orang lain.

Tapi puasa Ramadan itu hanyalah untuk Allah Ta’ala semata. Cari dan pilihlah waktu jeda saat Ramadan masih bersama kita, agar banyak amal saleh mampu kita lakukan dalam kesendirian dan ketersembunyian.