Berbuat kebaikan untuk orang lain

Jiwa Umri 14-Sep-2020
dreamstime_s_37923712
Berbuat kebaikan untuk orang lain © Akbar Solo | Dreamstime.com

Suatu hari Ibnu Mubarak pergi haji bersama rombongan. Ia melihat seorang wanita yang sedang mengais sisa makanan di tempat sampah. Ibnu Mubarak lalu memerintahkan pembantunya untuk menanyakan mengapa sebab wanita itu melakukan demikian.

Wanita itu lalu menjawab sambil menangis, “Sesungguhnya kami tidak mempunyai apa-apa selama tiga hari, kecuali apa yang bisa ku pungut dari tempat sampah ini”. Mendengar demikian itu, Ibnu Mubarak membagikan semua perbekalannya di desa tersebut. Ia kembali ke kampungnya dan menunda perjalanan hajinya. Dalam mimpinya ia seakan-akan didatangi seseorang dan berkata, “Semoga hajimu mabrur dan semoga pula dosamu diampuni”.

Kisah ini sangat menyentuh hati walau kejadian tersebut sudah terjadi ratusan tahun yang lalu. Diceritakan dalam kitab Insanun Arifin (Menjadi Manusia Ma’rifat dan Berjiwa Besar) karangan Imam Al-Ghazali r.a.

Beliau memberi keterangan bahwa hidup kita terlalu sibuk berpikir apa yang diberikan orang lain kepada kita. Tanpa kita berpikir apa yang bisa kita berikan untuk orang lain. Sifat egois membuatmu kikir untuk membantu kebaikan kepada sesama saudaramu.

Mulai saat ini belajarlah memberi dan berbuat yang terbaik untuk orang lain. Lakukanlah minimal menyingkirkan duri di jalanan agar tidak terkena kaki orang lain. Kemudian rasakan suasana hatimu saat melakukan kebaikan. Sungguh itu adalah perbuatan yang mulia.

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.” (Quran surah Al-Isra’, ayat 7)

Belum ada keterangan ayat Al-Quran maupun hadis yang menyatakan kerugian bagi orang yang berbuat kebaikan. Al-Quran selalu berbicara tentang keuntungan kepada siapa saja yang melakukan kebaikan. Termasuk ayat di atas, sebuah hitungan di luar logika manusia.

Seseorang yang berbuat baik aslinya dia sedang berbuat baik untuk dirinya sendiri, dan orang yang berbuat jahat sama, aslinya berbuat jahat untuk dirinya sendiri. Ayat ini menerangkan seakan amal perbuatan seperti tanaman yang akan tumbuh dan berkembang suatu hari nanti. Apa yang ditanam itu juga nanti yang akan dituai.

Untuk itu berusahalah menanam kebaikan untuk mendapatkan kebaikan masa depan. Terlebih lagi untuk bekal supaya kelak Allah SWT rida memasukkan kita semua ke dalam Surga-Nya.