Berdakwah dengan cara Sunan Bonang

Budaya 03 Apr 2021 Asna Marsono
Pilihan oleh Asna Marsono
Berdakwah dengan cara Sunan Bonang
Berdakwah dengan cara Sunan Bonang © Muhammad Safrudin Wahid | Dreamstime.com

Dari sembilan mufti dalam Wali Songo, Sunan Bonang memiliki cara yang unik dalam mendekati masyarakat untuk masuk Islam. Beliau juga merupakan maestro dari pujian jawa yang terkenal hingga saat ini, yaitu Tombo Ati.

Berikut adalah lirik dari tembang terkenal ini.

 Sunan Bonang dan tembang Tombo Ati

 

Tombo ati iku ono limang perkoro

(Obat hati ada lima perkaranya)

Kaping pisan moco Qur’an sak maknane

(Yang pertama, ngaji Alquran beserta maknanya)

Kaping pindo sholat wengi lakonono

(Yang kedua, laksanakan sholat malam)

Kaping telu wong kang sholeh kumpulono

(Yang ketiga, berkumpulah dengan orang sholeh)

Kaping papat kudu weteng ingkang luwe

(Yang keempat, memperbanyak berpuasa)

Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe

(Yang kelima, memperbanyak dzikir malam)

Salah sawijine sopo iso ngelakoni

(Salah satunya siapa yang bisa menjalankan)

Mugi-mugi Gusti Allah nyembadani

(Insyaallah Allah akan mengijabah)

 

Sunan Bonang memiliki nama asli Raden Maulana Makdum Ibrahim, merupakan putra dari Sunan Ampel. Beliau dilahirkan di Tuban, tahun 1465 dan meninggal pada tahun 1525.

Makam Sunan Bonang

Tempat kelahiran beliau tepatnya terletak di sebuah desa di daerah Rembang bernama Bonang. Sedangkan makam Sunan Bonan sendiri terdapat dua tempat, yang pertama berada di Tuban dan Pulau Bawean.

Konon katanya, hal ini disebabkan saat Sunan Bonang meninggal di Pulau Bawean, murid beliau yang berasal dari Tuban menginginkan beliau untuk dikubur di Tuban, bumi para wali. Murid-murid beliau kemudian bertikai satu sama lain hingga mendapat jalan tengah.

Pada akhirnya, murid-murid beliau yang dari Tuban sepakat membawa jenazah Sunan Bonang, sedangkan di daerah Bawean dimakamkan kain kafan dan sorban beliau.

Kehidupan Sunan Bonang

Sejak kecil Sunan Bonang telah di ajarkan ilmu-ilmu agama oleh ayahnya yang juga seorang Wali terkenal di Pulau Jawa.

Setelah menempuh Pendidikan di pondok pesantren Ampel Denta, Surabaya, beliau Bersama dengan Sunan Giri pergi menuju Melaka (ada juga sumber yang mengatakan Pasai, Sumatra) untuk melanjutkan pendidikannya.

Saat sudah Kembali ke tanah Jawa, Sunan Bonang dan Sunan Giri berpisah dan melanjutkan dakwahnya sendiri-sendiri. Sunan Giri membuka sebuah pondok pesantren di daerah Giri. Sedangkan Sunan Giri memulai untuk berdawah ke desa-desa kecil di penjuru Jawa. Dari sinilah beliau belajar mengenai Bahasa Jawa lebih dalam juga tradisi dan kepercayaan masyarakat.

Dakwah melalui kesenian Jawa

Suluk

Yang pertama adalah Suluk. Suluk merupakan karangan indah mengenai sufisme untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kata Suluk sendiri berasal dari Al-Qur’an.  Yakni terdapat dalam surah An-Nahl (16), ayat 69 berikut:

Artinya: “Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.”

(Quran surah an-Nahl, 16:69)

Fasluki dalam ayat di atas berarti tempuhlah jalan. Hal ini mengatakan bahwa kata Suluk secara bahasa bermakna menempuh jalan. Dengan kata lain, Suluk adalah menempuh jalan menuju Allah SWT.

Suluk yang terkenal dari beliau adalah Suluk Wujil, ada juga Suluk Khilafah, Gita Suluk Latri, dan lainnya. Bahkan beberapa manuskrip Sunan Bonang tersimpan di perpustakan Universitas Leiden, Belanda.

Seni Musik

Yang selanjutnya, Sunan Bonang melakukan metode dakwah dengan alat Gamelan berupa ‘Bonang’. Bonang merupakan salah satu alat musik gamelan yang berbentuk gong-gong kecil disusun rapi berdasarkan nada di atas sebuah tempat kayu (rancak).

Dipercayai bahwa Sunan Bonang lah yang pertama kali menciptakan aransemen gamelan jawa, menjadi nada yang lembut dan bermelodi tenang. Masyarakat sangat menyukai gamelan bonang dari beliau, sehingga metode dakwah ini menjadi yang paling populer.

Dari alat musik tersebutlah Sunan Bonang juga menciptakan lagu yang masih terkenal hingga sekarang, Tombo Ati atau ‘Pengobat Hati’.