Berguru dari kejahatan sebelumnya

Doa Roni Haldi Alimi
Roni Haldi Alimi
Berguru dari kejahatan sebelumnya
Berguru dari kejahatan sebelumnya © Kukurund | Dreamstime.com 0 0

Syekh Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi berkata:

“Janganlah engkau merasa cemas terhadap konspirasi manusia. Sebab, puncak dari kemampuan mereka adalah melaksanakan kehendak Allah subhanahu wa ta’ala.”

Setiap nabi dan rasul yang diutus Allah SAW kepada kaumnya selalu dan tentu menjumpai tantangan penolakan. Tetap saja ada sebagian dari kaumnya yang membenci dengan berbagai alasan. Walaupun terasa dibuat lagi di ada-adakan alasan itu.

Nabi Muhammad SAW mendapat tantangan

Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam pun menerima perlakuan tak enak dari kaumnya, diantaranya masih satu kerabat pertalian darah. Abu Jahal dan Abu Lahab contohnya. Jika orang di dalam keluarga sendiri saja menolak dakwahnya apalagi masyarakat Quraisy pada umumnya.

Berkali-kali Rasulullah SAW dihina dicemooh di khalayak ramai. Seperti saat beliau berbicara di hadapan masyarakat Mekah di Bukit Shafa. Ketika itu, Baginda meneruskan firman Allah SWT tentang perintah menyeru menyampaikan Islam kepada kerabat dekatnya.

Naiklah Rasulullah SAW ke atas Bukit Shafa, lalu menyeru, “Wahai Bani Fihr! Wahai Bani ‘Adi!” Seruan beliau diarahkan kepada kabilah Quraisy. Kemudian tak berapa lama, mereka pun berkumpul.

Karena begitu pentingnyapanggilan itu, seseorang yang tidak bisa keluar memenuhinya pun mengirimkan utusan untuk melihat apa gerangan yang terjadi. Tak terkecuali Abu Lahab dan kaum Quraisy pun berkumpul juga.

Kemudian Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam berbicara, “Bagaimana menurut pendapat kalian kalau aku beritahukan bahwa ada segerombolan pasukan kuda di lembah sana yang ingin menyerang kalian, apakah kalian akan mempercayaiku?”

Mereka menjawab, “Ya! kami tidak pernah tahu dari dirimu selain kejujuran.”

Baginda shallallahu ‘alayhi wa sallam berkata, “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian akan azab yang amat pedih.”

Abu Lahab menanggapi, “Celakalah engkau sepanjang hari ini! Apakah hanya untuk itu engkau kumpulkan kami?”

Maka, ketika itu turunlah ayat:

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab.”

(Surah al-Masad, 111:1)

Celakanya Abu Lahab dikarenakan ulah kejahatannya sendiri, yakni menolak dan memprovokasi orang lain agar mengikuti jejak jahatnya. Tak hanya itu deretan daftar kejahatannya. Sekumpulan tuduhan jahat dirangkai lalu disebarkan agar membendung laju gerak dakwah Islam.

Kejahatan berkait dengan kejahatan sebelumnya

Kejahatan itu rupanya berguru dari kejahatan sebelumnya. Nun jauh sebelum usaha dakwah jahriyyah dilakoni Rasulullah SAW di Mekah, telah tersebut termaktub kisah pahitnya dakwah Nabiyullah Musa ‘alayhis-salam di hadapan kaumnya,Bani Israil, dan penguasa Mesir bergelar Firaun.

Tak hanya penolakan dan pengingkaran terhadap bukti akurat yang mereka pertontonkan. Kejahatan lanjutan mereka lancarkan demi melanggengkan kekuasaan, yakni dengan menjatuhkan dan melenyapkan ajakan dakwah para nabi.

Ancaman pembunuhan dan pemusnahan menjadi senjata utama membungkam kebenaran. Ancaman yang menyuburkan benih ketakutan pun bergentayangan. Semuanya nyata dalam firman-Nya,  surah al-Anfal ayat 52.

“(Keadaan mereka) serupa dengan keadaan pengikut Firaun dan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sungguh, Allah Mahakuat lagi sangat keras siksa-Nya.”

Dan diperjelas dalam penegasan nasib akhir, akumulasi dari rangkaian kejahatan mereka. Yakni digiring berjalan membawa penyesalan melewati kaumnya di Hari Kiamat menuju memasuki seburuk-buruk tempat di akhirat.

Sungguh, kejahatan tetap akan menemui akhir yang pasti disesali. Dan kebaikan pasti mendapat kebahagiaan yang dinanti dinikmati. Petiklah ibrah dari sejarah lampau yang biasanya sering berulang. Jangan jadikan kejahatan sebelumnya sebagai guru kehidupan.

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.