Berharap kepada Allah SWT – bedanya dengan angan-angan

Doa Tholhah Nuhin
Opini oleh Tholhah Nuhin
Berharap kepada Allah SWT - bedanya dengan angan-angan
Berharap kepada Allah SWT - bedanya dengan angan-angan © Sawitree Pamee | Dreamstime.com

Harapan akan ampunan Allah SWT yang disertai dengan usaha-usaha atau langkah-langkah untuk mencapainya inilah yang disebut sebagai roja’ atau optimis.

Roja’ (optimis) sudah pasti berbeda dengan angan-angan kosong.

Berharap kepada Allah SWT

Orang yang berangan-angan kosong lalu ia yang berharap akan mendapatkan sesuatu, sedang ia tidak melakukan suatu usaha untuk mencapainya. Ia ingin mendapatkan rezeki tetapi berdiam diri saja, yang tentu saja mustahil untuk mendapatkannya.

Maka harapan yang benar adalah, bila setiap mukmin  mempunyai harapan kepada Allah Taala dan harapannya itu membuat dirinya menjadi taat dan mencegahnya dari kemaksiatan. Tetapi bila harapannya hanya angan-angan saja, sementara dirinya tenggelam dalam kemaksiatan, maka harapannya itu sia-sia dan percuma saja.

Dan orang seperti inilah yang dimaksud oleh Nabi Muhammad SAW, sebagai orang yang bodoh dan lemah, kebalikan dari orang yang cerdas. Dalam sabdanya, Rasulullah menyebutkan:

 “Orang  yang cerdas itu, adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk hari setelah kematiannya. Sedang orang yang dungu itu, adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya kemudian berangan-angan (bukan berharap) kepada Allah – mendapatkan ampunan dan kenikmatan.”

(Hadis riwayat Tirmidzi)

Jangan  angan-angan tanpa tindakan yang nyata

Renungkanlah perkataan Yahya bin Muadz berikut ini sehubungan dengan kalimat di atas:

“Di antara ketertipuan yang paling besar adalah terus menerus berbuat dosa sambil mengharapkan ampunan tapi tanpa penyesalan, mengharapkan untuk dekat dengan Allah tanpa diiringi ketaatan kepada-Nya, menanam benih neraka tetapi mengharap panen surga, ingin tinggal bersama orang-orang yang taat tapi dengan cara berbuat maksiat, menunggu-nunggu pahala tanpa berbuat amal kebaikan.”

Demikianlah nasib orang-orang yang suka berangan-angan kosong. Mereka bukanlah orang yang beruntung dan sukses dalam kehidupannya. Akan tetapi, mereka adalah orang yang tertipu karena kebodohannya sendiri.

Oleh karenanya bagi setiap muslim yang ingin membangun rasa harap kepada Allah SWT dengan bangunan yang benar, maka harus senantiasa mendengar dan mentaati seluruh perintah-Nya.

Mengharap ampunan Allah Taala, diterimanya amal-amal yang telah dilakukan dan mengharap Surga Allah. Semuanya tidak mungkin dilakukan hanya dengan sekedar berharap tanpa ada tindakan dan amalan yang nyata.