Berkata akan kebenaran dengan lantang untuk Allah SWT

dreamstime_s_166062340
Agar kita bisa berkata lantang © Fizkes | Dreamstime.com

Berkata lantang menyuarakan kebenaran adalah bagian dari jihad. Sebagaimana bersuara lantang terhadap kemaksiatan dan kezaliman. Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata yang baik) di hadapan penguasa yang zalim.” (Hadis riwayat Abu Daud, 4344; Tirmidzi, 2174; Ibnu Majah, 4011. Al-Hafizh Abu Thohir mengatakan hadis ini hasan)

Tapi untuk melakukan itu tidak mudah. Ada resiko yang harus ditanggung. Maka banyak orang yang mengetahui suatu kebenaran atau suatu kezaliman tidak sanggup berkata lantang. Karena tersandera masa lalu yang kurang nyaman sehingga menjadi barier baginya untuk berkata tegas.

Itulah sebabnya mengapa Allah SWT ketika memerintahkan Rasulullah SAW untuk berkata lantang: “Bangunlah, lalu berilah peringatan.” Perintah setelah itu adalah: “dan Tuhanmu, agungkanlah.”

Agar para penyampai risalah ketika bangun tegap berdiri memberikan peringatan menganggap semua kecil selain Allah SWT. Harta dunia kecil, jabatan kecil, posisi kecil dan semua kecil. Dengan demikian ia bisa terbebas dari tujuan dakwah selain mengharap rida Allah. Ini yang pertama.

Yang kedua, bersih lahir dan batin. “Dan pakaianmu, bersihkanlah.” Masa lalu yang kotor akan menjadi hambatan untuk mengatakan kebenaran. Pejabat yang korupsi,  akan sangat sulit meneriakan  dan  membongkar kasus korupsi. Anggota dewan yang tidak bersih, akan diam di tengah kubangan kekotoran.

Itulah sebabnya banyak kasus-kasus korupsi diam, tak pernah tuntas dan  tidak ada lagi yang meneriakkan. Sebab setiap ada yang berteriak langsung disemprit, “Hey, ingat ente juga menikmati…”

Ketiga, tinggalkan dosa. “Dan perbuatan dosa, tinggalkanlah.” Para politisi yang biasa bergelimang dosa tidak akan pernah meneriakan dan memperjuangkan kebenaran. Ingat, kelapangan lebih memudahkan untuk berbuat maksiat. Uang ada. kartu kredit ada, kesempatan ada.

Dan di antara jebakan yang disiapkan adalah dininabobokan dengan fasilitas dan kesenangan. Para politisi yang tidak siap dengan godaan ini akan tenggelam idealisminya, pada akhirnya diam dan mencari aman. Karenanya, menjauhi mawathin (tempat-tempat) syubhat menjadi penting, lebih lebih yang syubhatnya apalagi yang jelas-jelas haram.

Keempat, tidak pamrih. “Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” Kita memberi, melayani dan berkhidmat jangan selalu dikaitkan kepada manfaat duniawi. Dil-dil politik tidak selalu harus dengan manfaat duniawi. Sebab jika segala sesuatu diukur dengan manfaat dunia orang akan melihat size kita. Lalu dengan mudah menaklukkannya dan menjadikannya di bawah ketiak.

Itulah sebabnya, para Rasul ketika berdakwah selalu yang diusung semangat. “Ganjaranku hanya dari Allah SWT.” Itu juga yang menyebabkan Nabi Sulaiman a.s menolak hadiah Ratu Balqis saat Baginda mengajaknya masuk Islam.

Kadang dil-dil dan transaksi politik yang hanya fokus pada masalah dunia biasanya  menyebabkan sikap diam terhadap kejahatan. Di sinilah kadang terjadi transaksi kasus. Kamu punya kasus, saya punya kasus. Kita sama-sama punya kasus. Jangan saling se-bukaan, ya!

Yang terakhir, sabar karena Allah SWT. “Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.” Hidup ini semuanya adalah ujian, baik derita atau senang, kemiskinan atau kekayaan, sempit ataupun lapang. Dulu sahabat sudah teruji dalam kesempitan. Mereka bisa bertahan, dan itu diakui Rasulullah SAW.

Tapi Rasulullah SAW sangat khawatir jika mereka diuji dengan kelapangan. Kekhawatiran Rasulullah ini terbukti ketika pembagian ghanimah (harta rampasan perang) Perang Badar. Mereka bertengkar sampai Ubadah bin Shamit r.a menjelaskan kondisi mereka dengan kata-kata: “Dan akhlak kami menjadi buruk…”

Sabar terhadap godaan dunia apalagi sudah di depan mata dengan mengharap rida Allah SWT akan menjadikan kita berani, tak takut celaan orang yang mencela.