Berpasangan tapi tak sama

Masyarakat 14 Jan 2021 Roni Haldi Alimi
Pilihan oleh Roni Haldi Alimi
Berpasangan tapi tak sama
Berpasangan tapi tak sama © Pindiyath100 | Dreamstime.com

Sering kali bentuk tindakan manusia mengacu pada pandangannya tentang baik dan buruk. Nilai kebaikan dan keburukan senantiasa menjadi sumber rujukan dalam melakukan berbagai tindakan dalam hidup.

Bahkan, diyakini umum bahwa di mana ada kebaikan maka akan muncul keburukan. Atau sebaliknya, jika ada kebatilan maka akan datang kebenaran.

Kebaikan dan keburukan itu sudah jelas keberadaannya

Kebaikan sudah jelas dan begitu juga dengan keburukan. Ini seiring dengan ketentuan ketetapan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dan ganjaran dari keduanya pun telah dipaparkan.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengomentari: “bahwa orang-orang yang berbuat ihsan di dunia dengan beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mengerjakan amalan saleh, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan membalasnya dengan al-husna (kebaikan-kebaikan) di akhirat kelak.”

Kepastian ini berdasarkan firman Allah dalam surat ar-Rahman, ayat 60:

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).”

Begitulah halnya dengan keburukan dan pelakunya. Keburukan atau maksiat itu tidak sempit cakupannya, menentang, melanggar, membangkang dan mendurhakai ketentuan Allah SWT juga dikategorikan telah bermaksiat.

Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala jelaskan dalam surat an-Nisa, ayat 14:

“Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya;dan baginya siksa yang menghinakan.”

Baik dan buruk selalu berpasangan saling mengikuti, apakah keduanya sama?

Al-Wahidi dan al-Ashfahani mengetengahkan sebuah hadis dari sahabat Jabir dalam kitab at-Targhib: bahwasanya sewaktu Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam menuturkan ayat pengharaman khamar.

Tiba-tiba ada seorang badui berdiri seraya bertanya, “Saya adalah seorang pedagang dan ini adalah barang daganganku, aku telah mendapat keuntungan harta dari hasil perdaganganku. Kemudian apakah harta itu bermanfaat bagiku jika aku gunakan untuk berbuat taat kepada Allah?”

Lalu Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima (amal) kecuali hanya yang baik (yang halal).” Tidak lama kemudian Allah membenarkan perkataan Nabi-Nya itu melalui firman-Nya:

“Katakanlah: Tidak sama yang buruk dengan yang baik…”

(Surah al-Maidah, 5 ayat 100)

Allah SWT tegaskan lagi ketidaksamaan antara kebaikan dan keburukan dalam surat Fathir, ayat 19-22:

“Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat,dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya, dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas, dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati.”

Baik dan buruk itu tetaplah berbeda

Syekh Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi pernah berkata: “Tidak akan ditemukan untuk selamanya peperangan antara kebenaran melawan kebenaran karena kebenaran itu satu, dan tidak akan berlangsung lama peperangan antara kebenaran melawan kebatilan karena kebatilan itu pasti binasa.”

Sebuah keyakinan mesti ditanam dalam bahwa umur keburukan tidaklah berlangsung lama. Walau kebaikan terseok-seok ketimpangan, tetap segala bentuk muslihat keburukan akan menemui kebinasaan.

Kebaikan akan selalu meme nangi pertarungan, bukan keburukan. Dan ingatlah, tak semua yang berpasangan itu harus sama, ada kalanya berpasangan tapi tak sama.

Ternyata keduanya walau berpasangan tapi tetap tak sama dan takkan bisa bekerja sama. Kebenaran tetaplah kebaikan dan kebatilan tetaplah keburukan. Baik mendatangkan bahagia, sedang buruk menjerumuskan celaka. Maka, berbuatlah baik dan jauhkan diri dari keburukan.