Bersabar, jangan engkau marah!

Iman Umri 16-Okt-2020
dreamstime_s_162746489
Bersabar, jangan engkau marah! © Airdone | Dreamstime.com

Marah merupakan emosi sesaat yang terjadi dalam diri manusia, fenomena ini sering dijumpai di masyarakat umum atau di rumah anda. Orang tua marah kepada anaknya atau sebaliknya.

Pimpinan marah kepada atasannya atau sebaliknya, suami marah kepada istrinya atau juga sebaliknya. Marah bisa terjadi pada orang dewasa, laki perempuan atau bahkan anak-anak. Sejatinya marah tidak baik untuk kesehatan diri seorang pemarah.

Jangan engkau marah

Suatu hari seorang sahabat datang kepada Rasulullah SAW dan berkata:

“Ya Rasulullah, berilah aku nasehat? Rasul menjawab: Jangan engkau marah. Lelaki itu bertanya lagi: Kemudian, apalagi ya Rasul? Rasul menjawab: Jangan engkau marah. Sampai tiga kali Rasul mengulang-ulang jawaban yang sama.”

(Hadis riwayat Bukhari)

Hadis ini juga terdapat di dalam kumpulan hadis Arba’in an-Nawawiyah yang ditulis oleh Imam An-Nawawi (hadis yang ke-16). Dalam hadis di atas, Nabi Muhammad SAW menasehati untuk tidak marah secara berulang-ulang. Ini mengisyaratkan bahwa marah tidak baik untuk kesehatan seseorang.

Selain itu, marah adalah puncak kegagalan seseorang dalam mengawal emosinya. Marah merupakan sifat tercela yang harus dihindari oleh setiap orang.

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.”

(Al-Quran surah al-Fath, ayat 29)

Dalam urusan akidah, Islam mengajarkan untuk tegas. Tidak berbasa-basi untuk mengorbankan akidahnya, tanpa keluar dari ajaran agama Islam. Tegas dalam artian tidak mengganggu jika tidak diganggu, tidak memerangi jika tidak diperangi oleh orang kafir.

Namun, untuk sesama muslim maka selalu berkasih sayang. Begitupun dalam rumah tangga, seorang ayah diajarkan untuk tegas bukan marah. Seorang pemimpin harus tegas, bukan marah dan seorang ibu harus tegas, bukan marah.

Tegas berbeda dengan marah, bersabar itulah yang terbaik

Tegas berbeda dengan marah, tegas untuk mendidik dan mengajarkan sementara marah luapan emosi yang berujung kepada penyesalan. Di antara ciri orang yang bertakwa adalah mereka yang mampu menahan amarahnya (Lihat al-Quran surah al-i Imran, ayat 134).

Tidak mudah, memang. Namun, bisa dilakukan untuk mereka yang beriman. Ketika Rasul SAW mengetahui gugurnya paman Baginda, Hamzah Ibn ‘Abdul Muthalib r.a dalam Perang Uhud, perutnya dibedah dan hatinya dikunyah oleh Hind. Baginda bersabda: “Jika Allah menganugerahkan kepadaku kemenangan atas kaum Musyrikin Quraisy, pada salah satu pertempuran, pasti akan ku balas (kematian Hamzah itu) dengan 30 orang musyrik”.

Ketika itu Allah SWT menegur Nabi Muhammad SAW dengan turunnya surah an-Nahl, ayat 126 yang berbunyi:

“Jika kamu membalas maka balaslah dengan balasan yang setara, namun jika kamu bersabar maka itulah yang terbaik untuk orang yang sabar.”

Tiga cara mengatasi marah

Sabar jauh lebih mulia di atas kemarahan. Namun, jika marah sudah terlanjur maka ada tiga cara untuk mengatasinya:

  1. Membaca Ta’awuz yakni ‘A’udzu billahi minasy syaithonir rojiim’ yang artinya: ‘Aku berlindung kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dari setan yang terkutuk’ (Al-Quran surah an-Nahl, ayat 98)”-  sebab marah itu datangnya dari setan
  2. Dengan berwudu hati akan menjadi tenang, jiwa akan menjadi tenteram
  3. Pepatah mengatakan diam adalah emas (jika masih belum bisa mereda kemarahan). Saat marah biasanya banyak hinaan, cacian, makian yang tidak baik diucapkan, maka diam jauh lebih baik

Mudah-mudahan kita terhindar dari sifat marah.