Bersiap-siap sebelum berangkat

Islam 30 Jan 2021 Kkartika Sustry
Opini
Bersiap-siap sebelum berangkat
Bersiap-siap sebelum berangkat © Paop | Dreamstime.com

‘Bersiap-siap sebelum berangkat’ atau lebih dikenal dengan ‘Sedia payung sebelum hujan’. Peribahasa tersebut sering diucapkan orang tua kepads anaknya, sebagai petuah agar senantiasa bersiap-siap sebelum melakukan perjalanan.

Peribahasa tersebut senada dengan kata mutiara dalam bahasa Arab berikut ini ‘Man ‘arofa bu’da safari ista’adda’ dengan arti bahwa ‘Siapa yang tahu jauhnya perjalanan maka bersiap-siaplah ia’.

Bersiap-siap sebelum berangkat

Kata mutiara tersebut terdengar ringan sekali, tetapi sarat akan makna. Seseorang yang bersiap-siap sebelum melakukan perjalanan jauh sejatinya ia memiliki perencanaan yang matang agar tidak tersesat atau tidak kehabisan bekal.

Bisa kita ambil contoh persiapan yang kita penuhi sebelum melakukan perjalanan jauh seperti pakaian yang cukup, uang sebagai dana transportasi, bekal yang cukup juga kesehatan dan wawasan tentang perjalanan yang dituju.

Setidaknya jika ada hal-hal yang terjadi di luar praduga kita, minimal kita sudah punya persiapan. Perumpamaan lain, ketika kita berkeinginan membuat usaha yang besar tentulah kita membuat sebuah rencana agar bisa terwujud dengan sempurna.

Tetapi jika kita hanya coba-coba dan tidak memiliki persiapan maka hasilnya tidak akan maksimal. Orangtua ingin anaknya menjadi seorang yang sukses. Maka yang harus disiapkan juga upaya-upaya yang menunjang agar anak bisa sukses dimulai dari belajar di sekolah, kursus di lembaga juga berbagai kegiatan yang menunjang agar terwujudnya rencana tersebut.

Bersiap-siap sebelum berangkat, bukan hanya perihal perjalanan jauh. Namun, dalam menjalani hidup ini sebagai seorang hamba kita tahu bahwa hidup ini penuh liku dan ujian yang tujuannya untuk mengajak kita melakukan perjalanan jauh sebelum waktunya berakhir, yaitu  mati.

Oleh karena itu, seperti pepatah tersebut bahwa sebelum kita menghadapi takdir kita perlu sekali persiapan yang matang. Lantas seperti apa persiapan yang perlu dilakukan dalam melewati hidup ini? Tidak lain adalah beribadah dan beramal saleh.

Ilmu itu bekal sebelum kematian

Allah SWT menurunkan manusia ke muka bumi tentu akan diambil kembali. Namun, perjalanan diambil kembali tersebut jika kita tidak memiliki persiapan yang baik, tidak melakukan ibadah dengan atau lalai dalam beramal saleh maka kita akan menjadi hamba yang merugi.

Merugi hingga waktunya kembali kita tidak memiliki bekal amal kebaikan yang banyak sebagai penolong kita di Akhirat kelak. Mari kita sama-sama intropeksi diri sudahkah kita siapkan bekal untuk bertemu Allah Taala di hari akhir kelak.

Hendaknya kita bersiap-siap dan memperbanyak beramal saleh agar tetap dalam lindungan Allah SWT dan benar-benar memantaskan diri sebelum bertemu hari kematian.

Bekal sebelum menghadap kematian harus disiapkan dengan baik, salah satunya ilmu. Ketika manusia sibuk dengan mencerdaskan anak bangsa dengan ilmu pengetahuan sebagai bentuk upaya mempersiapkan diri menjadi pribadi yang unggul dalam pengetahuan.

Anak muda yang menginginkan dirinya menjadi juara maka perlu persiapan yaitu belajar. Jika tidak ada persiapa hanya angan saja maka mustahil akan mendapat hasil yang baik seperti niatnya yaitu menjadi sang juara.

Ini pula yang menjadi bekal agar kita mampu beramal saleh dan senantiasa beribadah sebelum ajal tiba. Maka dari itu penting bagi kita untuk merencanakan sesuatu sebelum menetapkan suatu urusan.