Bersyukur adalah puncak hidup

dreamstime_s_34483124
Bersyukur adalah puncak hidup © Jackmalipan | Dreamstime.com

Nyaris tak ada yang tak kita punya lagi miliki. Banyak bahkan lebih yang telah kita punya lagi miliki. Banyak nikmat yang telah kita rasakan, bahkan yang tidak dirasakan orang lain juga telah kita rasakan. Apakah itu semua telah menjadikan kita cukup?

Apa yang kita inginkan telah kita raih, bahkan yang tak masuk dalam daftar lis keinginan telah pun kita miliki. Benar-benar Allah Maha Pemberi dan Maha Memahami semua keinginan dekat dan keinginan terjauh sekalipun. Apakah itu semua telah menjadikan kita puas?

Jangan ukur menurut ukuran kita

Terkadang kita mengukur sesuatu menurut takaran dan timbangan rasa diri, bukan menimbang dan menakar dengan rasa yang dimiliki oleh Allah SWT. Seharusnya kita lahirkan pertanyaan akan kepantasan atau kepatutan ukuran dari takaran dan timbangan rasa diri kita. Karena tak kita minta pun,Yang Maha Pemberi tetap memberi memenuhi, bahkan melebihi takaran dan timbangan rasa kita.

Sudah banyak bahkan melimpah yang diberi, tapi Allah Yang Maha Pemberi tak pernah sekalipun minta dibalas apalagi berencana minta ganti rugi atau tukar guling dengan kita. Yang ada hanya diingatkan untuk bersyukur agar tak jatuh kufur.

Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu anhu pernah berpesan:

“Aku tidak meminta rezeki kepada Tuhan, karena dia telah menyelesaikan sumpahnya, tetapi aku meminta keberkahan dari rezeki-Nya.”

Khalifah kedua itu mengingatkan kita akan mencari keberkahan tak hanya sekedar mencari rezeki-Nya. Karena berkah adalah puncak hidup kita. Puncak hidup itu ada pada diri kita tatkala rasa lapang di dada, tenang di hati keduanya telah wujud dalam diri.

Puncak hidup yaitu berkah akan menjernihkan air muka dan menuntun bibir untuk selalu terkulum tersenyum sebagai tanda kesyukuran. Raih dan gapailah puncak hidup itu dengan meminta keberkahan dari Allah SWT.

Bersyukur adalah puncak hidup

Mari kita renungi salah satu firman Allah SWT dalam surah Ibrahim, ayat 7:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Syekh Raghib al-Ashfahani dalam kitabnya al-Mufradat memaknai syukur dengan, ‘Upaya untuk menampakkan nikmat-nikmat Allah ke permukaan karena syukur lawannya adalah kufur.’

Puncak hidup adalah bersyukur. Syaratnya bersyukur hati dan amal diri sebagai bukti kesyukuran. Bersyukur sebagai tanda tunduk dan kesadaran hamba akan kelemahan dirinya. Dengan manusia berprilaku syukur, maka jauhlah hati dan diri dari kesombongan dan kepongahan. Bersykurlah karena dengannya kita akan peroleh ketenangan.