Bersyukur pada hal-hal kecil akan membawa kedamaian

Filsafat Asna Marsono
Asna Marsono
Bersyukur pada hal-hal kecil akan membawa kedamaian
Bersyukur pada hal-hal kecil akan membawa kedamaian © Heru Anggara | Dreamstime.com

Rasulullah SAW adalah teladan terbaik bagi kita. Segala aspek dari kehidupan Baginda adalah tentang kesederhanaan. Apa salah satu contohnya? Aisyah r.a berkata:

“Keluarga Rasulullah SAW tidak pernah makan roti gandum sampai kenyang dua hari berturut-turut hingga Baginda wafat.”

(Hadis riwayat Muslim)

Jadi, jika anda memiliki cukup kekayaan, maka apakah anda berhenti untuk bekerja? Tidak, bukan itu masalahnya. Rasulullah SAW juga berkata:

“Sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin…”

(Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Kemakmuran hati adalah kemakmuran yang nyata

Suatu hari Rasulullah SAW berkata kepada Sahabatnya, Abu Dzar r.a: “Wahai Abu Dzar! Apakah kamu menganggap kekayaan harta sebagai kemakmuran?” Abu Dzarmenjawab, “Ya, wahai Rasulullah.”

Kemudian berkata Nabi Muhammad SAW: “Maka apakah kamu menganggap kelangkaan kekayaan sebagai kemiskinan?” Abu Dzar r.a berkata, “Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah SAW mendengar hal tersebut dan berkata: “Sebenarnya, kemakmuran hati adalah kemakmuran yang nyata, dan kemiskinan hati adalah kemiskinan yang sesungguhnya.”

Definisi kaya yang disebutkan oleh Abu Dzar r.a merupakan definisi kaya bagi masyarakat. Orang yang kaya harta akan dianggap kaya oleh sekitarnya, dan orang yang tidak bergelimang harta akan dianggap miskin oleh masyarakat.

Namun, Nabi Muhammad SAW membantah pandangan umum ini dan menunjukkan kepada kita kebenaran yang sesungguhnya. Siapa pun yang bijaksana akan dapat memahami perihal ini.

Dalam hadis lain, subjek dijelaskan lebih singkat tetapi dengan cara yang lebih signifikan. Rasulullah SAW bersabda:

“Hakikat kaya bukan dari banyaknya harta. Namun kekayaan hati.”

(Hadis riwayat Bukhari)

Nafsu untuk kekayaan dan sedikit kepuasan

Jika anda ingin melanjutkan di dunia, anda membutuhkan uang dan sumber daya, itu normal. Daya tarik orang untuk sumber daya ini juga normal.

Dalam Kitab suci Al Quran, Allah SWT juga berfirman:

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.”

(Quran surah al-i Imran, 3:14)

Nabi tercinta Muhammad SAW juga berseru:

“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.”

(Muttafaqun ‘alaih, hadis riwayat Bukhari, 6439 dan Muslim, 1048)

Nafsu yang tidak berujung untuk kekayaan ini adalah sifat manusia. Namun, bagi mereka yang dapat mengatasi dan menahan diri, mereka yang puas dengan kurang lebih kekayaan mereka sendiri, kehidupan di dunia yang sulit ini menjadi bahagia dan damai bagi mereka.

Kualitas puas dengan cara ini disebut Qana’ah atau ‘Selalu bersyukur’. Salah seorang sahabat Nabi menasihati anaknya, “Nak, dengarkanlah! Ketika melihat sesuatu, ingatlah untuk menunjukkan sedikit rasa bersyukur. Jika engkau tak memiliki rasa syukur tersebut dalam hidupmu, tak berguna bagimu kekayaan apapun.”

Bersyukur pada hal-hal kecil akan membawa kedamaian

Hadis Rasulullah SAW lebih jelas. Baginda bersabda:

“Siapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya.”

(Hadis riwayat Tirmidzi)

Tempat berlindung yang aman, tubuh sehat, dan makanan sepanjang hari, lalu apa lagi yang anda inginkan!

Kita dapat mengambil kebutuhan pokok hidup ini dan bersyukur pada Allah SWT atas rezeki-Nya yang diberikan kepada kita. Selama seseorang bersyukur apa yang telah datang padanya, kesedihan duniawi akan terhapuskan. Dengan cara ini, hati akan tenang.

Rasulullah SAW mengatakan dengan sangat tegas bahwa tidak ada yang akan mati sebelum ia menerima rezeki yang ditentukan secara penuh. Demikian merupakan ketentuan dari Allah SWT, dan tugas kita hanyalah berusaha untuk mata pencaharian itu.

Jika seseorang ingin sukses dengan cara ini untuk puas dengan hal-hal sekelilingnya, maka seseorang perlu memiliki iman dan kepercayaan yang kuat kepada Allah Taala.

Dunia ini hanya sementara. Jika seseorang bisa bersyukur kepada hal-hal kecil, bukan hanya kehidupan dunia yang akan damai dan terjamin, namun juga kehidupan kekal di akhirat, insya Allah.