Bertemu karena Allah SWT- sepenggal kisah sang mua’allafah

Islam Muhammad Walidin
Muhammad Walidin
Bertemu karena Allah SWT- sepenggal kisah sang mua’allafah
Bertemu karena Allah SWT- sepenggal kisah sang mua’allafah © Arne9001 | Dreamstime.com

Ada rasa teduh saat berbincang denga ibu Merry, Wakil Sekretaris PITI sekaligus Wakil Bendahara Yayasan Masjid al-Islam Chengho, Palembang. Kalimat yang teruntai penuh kelembutan, khas sosok seorang ibu.

Walaupun sederhana, kalimat perkalimat tadi begitu berbobot laksana hikmah, khas pula dari seseorang yang telah tersiram hidayah.

Bertemu karena Allah SWT- sepenggal kisah sang mua’allafah

Sepanjang hidupnya hingga mencapai usia 15 tahun, ibu Merry sebenarnya telah akrab dengan peribadatan muslim di kawasan Sekanak, kampung tempat ia tinggal. Ribuan azan pernah mampir di telinganya, kumandang takbir tak pernah henti menyapanya.

Namun, lantunan takbir di tahun 1400 Hijrah/1980 Masehi mampu meluruhkan air matanya. Ada rasa syahdu yang tak diundang menelusup ke dalam sanubarinya. Rasa yang kelak menghantarkannya kepada cahaya Islam 5 tahun kemudian.

Sejak lantunan takbir yang menggoda itu, ia tak kuasa menceritakan rasa tersebut kepada seorang sahabat akrab muslimah. Sang sahabat mengatakan mungkin itu hidayah, maka bersyukurlah! Sebagai bentuk syukur, ibu Merry remaja mulai bertanya tentang Islam.

Orang yang pertama ia temui adalah saudara sang sahabat yang faham Islam dan datang dari luar kota dalam rangka lebaran. Sejak saat itu, Merry remaja mulai belajar berbagai tatacara ibadah Islam, terutama di hari-hari minggu, bersama sang kawan. Seiring waktu, pembelajaran ini timbul tenggelam, bahkan terlupakan.

Layaknya remaja lain, Merry melanjutkan pendidikan menengah atas. Ia memilih SMA di bawah naungan FKIP Universtias  Sriwijaya. Tak dinyana, di sana Allah SWT telah menyiapkan seorang pelajar yang kelak akan menjadi pintu syahadat, pembimbing, bahkan teman hidup selamanya.

Sosok pelajar bernaman Muhammad Affandi ini sangat baik, mengayomi, dan pemahaman agamanya cukup mumpuni. Selama tiga tahun sekolah, Merry tetap mempelajari Islam walau diam-diam. Ia banyak bertanya kepada teman dekatnya, terutama kepada Muhammad Affandi. Lulus dari sekolah tidak membuat hubungan mereka renggang.

Bahkan di ujung tahun kedua pasca lulus, Muhammad Affandi mengajaknya mengarungi rumah tangga bersama. Tentu saja ada rasa bahagia, namun rasa cemas juga semakin mengemuka.

Toleransi beragama keluarga, tak ada masalah perbedaan keimanan

Keluarga Merry penganut Kristen taat. Bahkan salah seorang keluarganya adalah seorang pendeta. Bagaimana kedepan? Rasa takut terus menyelinap. Untung sang pujaan hati memberikan kekuatan. Apapun resikonya siap ia hadapi. Sebuah tes riak air dilakukan.

Sang kekasih mencoba bertandang ke rumah orang tuanya. Respon yang muncul adalah rasa tidak suka karena latar belakang agama. Dengan demikian, dicari jalan, walau bukan yang terbaik, untuk menjemput takdir Allah SWT ini.

Merry, bersama beberapa kawan yang mendukung niat baik ini berangkat ke Curup, kota orang tua Muhammad Affandi. Niat baik telah disampaikan. Dukungan keluarga di Curup sangat membesarkan hati. Dipilihlah wali hakim untuk mewakili orang tua mempelai perempuan yang tidak hadir.

Namun, etika keagamaan tetap terpenuhi dalam hal ini. Kabarnya, pihak KUA mengirimkan surat ke orang tua di Palembang untuk izin bertindak sebagai wali hakim. Walau mereka terkejut, mereka merelakan putrinya menikah. Sedih tak kuasa ditahan, baik oleh Merry maupun keluarga besarnya. Tapi takdir telah ditentukan. Allah SWT  sebaik-baik perencana.

Merry dan Muhammad Afandi sah sebagai pasangan yang berada dalam ikatan yang sangat kuat Mitsaqan ghalizan pada 31 Desember 1985. Seminggu sebelum akad nikah tersebut, Merry telah mengucapkan syahadat sebagai bukti keimanan.

Setelah pernikahan terjadi, Merry dan suami pulang ke Palembang. Sebagai anak, ia ingin mengaturkan permohonan maaf atas tindakan yang dinilai kurang pantas. Ia juga mengenalkan suami kepada kelurga besar. Ia  sangat bersyukur orang tua saya berbesar hati menerimanya dan pasangan.

Di samping itu, respon keluarga besar sangat membanggakan hati. Mereka disambut oleh keluarga dalam syukuran sederhana bersama keluarga besar dan tetangga. Di keluarga besar, toleransi beragama semakin terjaga. Tak ada masalah dengan perbedaan keimanan.

Ibu Merry kini bahagia hidup bersama imam pilihan, dua orang putra dan lima orang cucu. Hidupnya terasa berkah karena bermanfaat untuk sesama. Sebagai ketua Ikatan Persaudaran Mualaf Masjid Agung Palembang, ia melayani para mualaf dalam kajian hari minggu.

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.