Berwisata religi di Masjid Jamik Taluak

Budaya Sanak 24-Jul-2020
Masjid Jamik Taluak © Masjidmohhatta - Own work, CC BY-SA 4.0, Link

Bangunan konvensional namun bernuansa modern, itulah kesan pertama kali melihatnya. Berlokasi di nagari Taluak IV Suku, kecamatan Banuhampu, kabupaten Agam, yang tidak begitu jauh dari Kota Bukittinggi.

Masjid ini termasuk tertua di Provinsi Sumatera Barat. Menurut sejarahnya didirikan oleh Haji Abdul Majid pada tahun 1860.

Masjid yang pada mulanya hanya terbuat dari kayu beratapkan ijuk ini sudah beberapa kali direnovasi dengan mempertahankan bentuk asli. Konstruksinya  hampir sama dengan masjid-masjid tua di Nusantara, beratap seperti gapura namun sedikit curam.

Sedangkan arsitektur dipengaruhi oleh corak Minangkabau dengan tambahan menara dan serambi khas timur tengah. Di sisi utara terdapat bedug yang masih tetap berfungsi meski telah dimakan usia.

Bangunan utama masjid adalah ruang salat yang berbentuk persegi berukuran 13 × 13 meter dan mihrab 7,5 x 3 m. Pada ruangan mihrab ini terdapat mimbar porselin berhias bunga dan daun-daunan. Mimbar ini berangka tahun 1926.

Pada ruangan utama terdapat 5 buah tiang penyangga. Empat di antaranya  membentuk denah bujur sangkar dan satu tiang berada di tengah-tengahnya. Tiang berbentuk kubus pada bagian bawah dan persegi delapan pada bagian tengah serta puncaknya berbentuk pelipit.

Di arah tenggaranya, terdapat serambi yang berfungsi sebagai sirkulasi dari luar ke dalam yang berukuran 13 x 3 meter. Serambi tersebut bukan merupakan teras depan, sebab memiliki dinding dan beberapa jendela. Tangga masuk menuju serambi tidak terdapat di bagian tengah muka bangunan, melainkan di ujung kiri dan kanan yang masing-masing memiliki atap sendiri.

Selain digunakan untuk ibadah salat berjamaah, Masjid Jamik Taluak juga menjadi pusat pendidikan agama Islam. Menariknya, masjid yang banyak difoto selama masa pemerintahan Hindia Belanda ini memiliki kolam yang cukup luas. Ikan-ikan besar dan kecil tampak  hilir mudik mencari rezeki.

Memberi makan ikan ini menjadi ikon wisata tersendiri di sini. Pengurus menyediakan pakan hewan tersebut yang dikemas dalam kantong plastik. Pengunjung cukup berinfak dua ribu rupiah untuk setiap kantongnya dengan cara memasukkan uang ke dalam kotak celengan yang telah disediakan. Tidak ada yang mengawasi, tidak ada yang menagih. Di sini kita bisa berwisata regili sekaligus berinfak seikhlas hati.