Besarkan ‘power’, suara lain akan hilang

Kesejahteraan Mental Komiruddin
Komiruddin
Besarkan 'power', suara lain akan hilang
Besarkan 'power', suara lain akan hilang © Ralwel | Dreamstime.com

Membentengi seseorang dari suatu bahaya tidak selalu harus melarangnya menjauhi bahaya itu. Tapi perkuat daya, kodrat atau power kita dan imunitas dirinya, maka bahaya akan terpental darinya.

Jika suara di dalam ruangan kuat dan menggelegar, maka suara yang ada di luar akan tenggelam dan tak akan terdengar.

Jika power di dalam kuat, di luar tak berpengaruh

Kita tak perlu melarang mendengarkan suara di luar. Tapi besarkan volume suara di dalam, niscaya suara di luar dengan sendirinya akan hilang. Imam Asy Syahid Hasan al-Banna mengatakan:

“Sesungguhnya manusia hidup dalam gubuk gubuk akidah yang lusuh, maka jangan kalian hancurkan gubuk-gubuk mereka. Namun bangunlah untuk mereka istana-istana akidah yang mulia, maka mereka pasti meninggalkan gubuk-gubuk tersebut dan pindah keistana-istana yang kalian bangun.”

Menyeberangi sungai adalah bahaya. Melarang orang mendekati sungai agar terhindar dari bahaya tidak sepenuhnya benar.

Tetapi memberikan jaminan keamanan pada orang yang akan menyeberang dengan memberikan perahu yang bagus dan alat pengaman yang lengkap adalah bentuk menjauhikan ia dari bahaya.

Ketika Nabi Sulaiman a.s menolak hadiah dari Ratu Bilqis, hal itu karena ia merasa lebih kuat darinya. Apa yang Allah SWT berikan itu jauh lebih banyak dan lebih baik dari apa yang diberikan Bilqis.

“Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata: “Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.”

(Surah an-Naml, ayat 36)

Dengan itu, cerita apapun tentang Bilqis dan hadiah sebanyak apapun yang diberikan tak akan pernah mempengaruhi sikap dan keputusan Sulaiman a.s. Ini isyarat, jika power kita di dalam lebih kuat, maka power di luar tak akan berpengaruh.

Besarkan ‘power’, suara lain akan hilang

Jika apa yang ada di dalam lebih menarik, maka tak ada arti yang di luar semenarik apapun ia. Jadi, mari kita perkuat di dalam, besarkan power dan kapasitas, supaya tidak ada kekhawatiran akan  terhinggapi debu-debu syubuhat akibat berinteraksi dengan dunia di luar kita.

Jika kita masih menghalang-halangi orang untuk mendengar, melihat dan berinteraksi dengan dunia luar kita, karena khawatir terpengaruh, itu berarti power kita kurang besar perlu ditambah kapasitasnya.

Di sini, kita bisa memahami mengapa orang orang kafir melarang orang Quraisy untuk mendengar al-Quran. Karena power Rasulullah SAW dengan al-Qurannya lebih besar dari power mereka, sehingga mereka khawatir akan terpengaruh dengan ayat-ayat dari al-Quran tersebut.

“Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka.”

(Surah Fussilat, 41 ayat 26)

Disini juga kita bisa memahami mengapa Rasulullah SAW menyetujui perjanjian Hudaibiyah yang salah satu kesepakatannya adalah ‘Jika ada dari kaum muslimin yang hijrah ke Madinah, maka penduduk Madinah wajib menyerahkannya bila diminta. Sedangkan jika ada penduduk Madinah yang ke Mekah, maka penduduk Mekah tidak harus memulangkannya.’

Sebab power Islam yang ada pada kaum muslimin lebih besar sehingga interaksi mereka dengan dunia luar tidak akan ada pengaruh terhadap keislaman mereka. Jadi, besarkan power, maka suara dari luar tak akan berpengaruh.

Perindah rumah dan ciptakan suasana yang nyaman, maka apa yang ada di luar tidak akan menggoda dan memperdaya.