Bilqis dan kepemimpinan (2): melakukan analisa dan memahami realitas

Sejarah Komiruddin
Opini oleh Komiruddin
Bilqis dan kepemimpinan (2): melakukan analisa dan memahami realitas
Bilqis dan kepemimpinan (2): melakukan analisa dan memahami realitas © Pavel Kusmartsev | Dreamstime.com

Pada pembahasan sebelumnya kita sudah kemukakan dua dari sifat-sifat pemimpin sejati yang kita ambil dari kepemimpinan Ratu Bilqis.

Dua sifat tersebut adalah pertama, terbuka dan lapang dada; kedua, meminta pendapat dan masukan.

Tidak reaksional, menganalisa

Walau para elit memberikan pendapat yang meyakinkan, Ratu Bilqis tidak kehilangan akal sehatnya. Sebagai pemimpin yang penuh pengalaman,  beliau tidak langsung menerima pendapat yang diajukan. Tapi Bilqis punya cara lain untuk mengetahui siapa sebenarnya Nabi Sulaiman a.s dan sebesar apa kekuatannya.

Ratu Bilqis ingin menguji integritas Nabi Sulaiman a.s dengan mengirimkan hadiah. Sebab bila seseorang mau menerima hadiah itu isyarat dimungkinkannya kompromi. Inilah yang dinamakan analisa awal.

“Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.”

(Quran surah an-Naml, 27 ayat 35)

Seorang pemimpin wajib melakukan analisa sebelum menentukan sikap. Dengan analisa yang akurat maka banyak manfaat yang dapat diraih, dan dapat menekan kemudharatan sekecil mungkin.

Menjadikan pengalaman masa lalu dalam mengambil sikap

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa Bilqis tidak sependapat dengan saran dan masukan para elit. Itu disebabkan ia memiliki pengalaman masa lalu, di mana setiap peperangan selalu menyisahkan kepedihan. Maka beliau tidak gegabah.

“Dia (Bilqis) berkata: Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.”

(Surah an-Naml, 27 ayat 34)

Seorang pemimpin yang bijak adalah mereka yang memiliki kemampuan memprediksi setiap dampak dan akibat sebelum diambil keputusan. Bahkan jika keputusan itu gagal dieksekusi, beliau sudah memiliki plan yang lain atau cara exitnya.

Sebab setiap keputusan ada konsekuensi yang akan ditanggung di kemudian. Itulah yang dilakukan Bilqis ketika akan menetapkan keputusan.

Memahami realitas

Nabi Sulaiman a.s menolak hadiah dari Ratu Bilqis, bahkan mengancamnya dengan ancaman yang serius.

“Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina.”

(Surah an-Naml, 27 ayat 37)

Saat itulah Ratu Bilqis memahami kondisi realitas yang sebenarnya. Realitasnya bahwa tak mungkin ia melawan Nabi Sulaiman a.s yang memiliki kekuatan tak terhingga. Akhirnya, Bilqis dapat mengambil keputusan yang tepat. Yaitu bergabung atau menjadi bagian dari kerajaan Nabi Sulaiman.

Kekuasaan tidak hilang dan rakyat sejahtera dan senang. Sebuah keputusan yang tepat atau sering disebut dengan Win-Win Solution.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pemimpin yang berhasil adalah mereka yang memiliki sifat inklusif, positive thinking, memprediksi, menimbang, menganalisa dan mampu memahami realitas.

Dengan kriteria tersebut maka dipastikan ia dapat menghasilkan keputusan yang tepat.