Bilqis dan kepemimpinan (1): lapang dada dan meminta pendapat

Sejarah 08 Des 2020 Komiruddin
Opini oleh Komiruddin
Bilqis dan kepemimpinan (1): lapang dada dan meminta pendapat
Bilqis dan kepemimpinan (1): lapang dada dan meminta pendapat © Kenneth Sponsler | Dreamstime.com

Ratu Bilqis adalah salah seorang ratu yang pernah memimpin negeri Saba’.  Ia bukanlah ratu muslimah, melainkan ia bersama kaumnya adalah penyembah matahari.

Walau demikian, ia adalah sosok pemimpin yang bijaksana, menginginkan rakyatnya hidup sejahtera.

Bilqis dan kepemimpinan

Jika kita membaca kisahnya di dalam surah An Naml (27) dari ayat 29-44, kita akan menemukan sifat-sifat sejati dari seorang pemimpin.

Terbuka dan lapang dada

Ini bisa kita lihat saat ia menerima surat dari Nabi Sulaiman a.s yang isinya lebih terkesan sebagai ancaman.

“Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”

(Surah an-Naml, 27 ayat 31)

Surat tersebut ia sampaikan kepada para elit politiknya,  tidak disimpan,  atau dibuang ke tong sampah atau diacuhkan. Tapi ditanggapi dengan lapang dada dan pikiran positif. Itu jelas terlihat dengan dia menyebut surat itu dengan ‘Kitabun Karim’ yaitu surat yang mulia.

 “Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia.”

(Surah an-Naml, 27 ayat 29)

Menjadi pemimpin itu tidak mudah. Kadang kita sudah merasa melaksanakan kewajiban,  hak hak orang lain sudah dipenuhi,  tapi tetap saja ada  orang yang tidak puas. Kritikan, masukan, saran, surat kaleng kadang bertubi tubi datang ke meja kerja. Bisa jadi isinya kritikan pedas atau ancaman yang menyakitkan.

Pemimpin yang bijak tentu tidak akan mengabaikan itu semua. Dia akan menanggapi itu semua dengan positif thinking dan berlapang dada. Sebab kadang ada orang yang lebih tahu akan kelemahan kita, sehingga kita bisa instrospeksi diri. Berlapang dada dan membuka diri dengan dialog adalah cara pemimpin menyelesaikan masalah.

Meminta pendapat dan masukan

Setelah ia mendapatkan surat itu dan mengumpulkan elit politiknya, ia langsung minta pendapat dan masukan tentang isi surat tersebut. Sehebat apapun seorang pemimpin pasti ada keterbatasan. Tidak akan kita temukan kesempurnaan pada diri satu orang.

Semakin banyak kepala semakin banyak ide dan pemikiran dan semakin mudah untuk mempertimbangkan dan memutuskan. Pemimpin yang bijak tidak akan memutuskan kebijakan sebelum meminta pendapat dan pertimbangan para ahli, apalagi kebijakan itu strategis.

Sebab setiap keputusan dan kebijakan pasti ada dampak dan konsekuensinya. Inilah yang dipahami oleh Bilqis dalam memimpin negeri Saba’.

“Berkata dia (Balqis): Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku).”

(Surah an-Naml, 27 ayat 32)

(Bersambung)