Bimaristan atau rumah sakit pertama dalam peradaban Islam

dome.mit.edu-Bimaristan-Nur-al-Din
Bimaristan Nur al-Din di Damaskus, Syria © dome.mit.edu

Rumah sakit adalah sarana vital bagi sebuah bangsa. Sebuah bangsa yang besar harus memastikan kesehatan raga anak-anak bangsanya. Sebab jiwa yang sehat terdapat di dalam tubuh yang sehat. Dengan kesehatan jiwa dan raga, kemajuan bangsa dapat dicapai.

Sebagai sebuah peradaban baru, Islam telah memulai anjuran kesehatan sejak dini. Diketahui bahwa Rasulullah SAW tidak pernah mengalami sakit kecuali saat akan menghadapi sakaratul maut. Hal ini membuktikan bahwa Rasul sebagai tauladan telah menciptakan pola hidup sehat.

Apa rahasia kesehatan penduduk Madinah?

Seorang tabib dari Mesir telah dikirim ke Madinah sebagai hadiah persahabatan. Setelah lapan bulan bertugas, ia merasa tidak banyak pekerjaan yang bisa dilakukan di Madinah karena penduduknya sehat-sehat. Sebelum pulang ke Mesir, ia berpamitan kepada Rasulullah SAW seraya bertanya bagaimana rahasia kesehatan penduduk Madinah.

Nabi Muhammad SAW menjawab: “Kami adalah kaum yang tidak makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang.” Dalam riwayat lain disebutkan bahwa:

“Kalaupun anak Adam harus menyuap makanan utuk menegakkan tubuh, maka cukuplah sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya.”

(Hadis riwayat at-Tirmidzi)

Dengan tingkat kesehatan 100%, Madinah sebenarnya tidak memerlukan rumah sakit. Hanya saja, peperangan yang kerap terjadi menimbukan ide bagi Rufaidah binti Saad al-Aslamy al-Anshary (tenaga medis pertama) untuk membuka tenda kesehatan di Perang Uhud (625 Masehi).

Ia merawat para prajurit yang terluka pada malam hari. Berikutnya, Rufaidah meminta izin Rasulullah SAW untuk melatih para muslimah dalam bidang pengobatan dan mereka terlibat aktif sebagai tenaga medis dalam perang Khandaq (627 Masehi), dan perang Khaibar (629 Masehi).

Bimaristan muncul pada Dinasti Umayyah

Bimaristan atau rumah sakit pertama dalam peradaban Islam, dalam bentuknya yang lebih modern muncul pada Dinasti Umayyah di bawah kepemipinan Khalifah Walid bin Abdul Malik (705-715 Masehi). Pada masa itu, nama untuk rumah sakit adalah Bimaristan (dari bahasa Persia). Bimar berarti penyakit, dan stan bermakna tempat.

Masa kepemimpinan Walid I ini memang makmur dan jaya. Kekuasaan Umayyah juga telah mencapai Andalusia (Eropa). Ia membangun berbagai Bimaristan di pusat kota maupun di daerah. Bahkan, di Andalusia sendiri terdapat 50 Bimaristan untuk berbagai jenis penyakit.

Bimaristan ini dilengkapi dengan dokter dan perawat profesional. Di samping itu sebagai tempat penelitian (penyakit dan obat) dan pembelajaran bagi calon-calon dokter. Salah satu peninggalan Bimaristan yang masih ada di Damaskus, Suriah (Syria) sebagai pusat kekuasaan Umayyah adalah Rumah Sakit Nur al-Din (sekarang sudah dijadikan museum).

Rumah sakit ini didirikan oleh Nur al-Din (1118-1174 Masehi).  Bimaristan ini dilengkapi dengan persediaan makanan dan obat-obatan yang memadai. Koleksi buku medis juga disediakan di perpustakaan. Bangsal, ruang khusus operasi, laboratorium, ruang pasien gangguan jiwa tersedia.

Aula, klinik rawat jalan, dan dapur juga menjadi bagian dari rumah sakit. Bahkan, fasilitas ibadah seperti masjid dan gereja juga disediakan di rumah sakit Islam ini.  Dan yang paling penting, semua layanan medis ini diberikan secara gratis kepada rakyat tanpa memandang suku, ras, dan agama.

Tak bisa dihindari, pola rancang bangun rumah sakit atau Bimaristan pada masa awal Islam telah menjadi prototype bagi rumah sakit modern di seluruh dunia di kemudian hari.