BJ Habibie, asa menerbangkan Indonesia

Asia 03 Apr 2021 Contributor
Sanak
BJ Habibie, asa menerbangkan Indonesia
BJ Habibie, asa menerbangkan Indonesia © By CC BY-SA

Hari itu, 25 Juni 1936, seorang anak brilian lahir. Sang ibu, R.A. Tuti Marini Puspowardojo dan sang ayah, Alwi Abdul Djalil menyambut kehadiran putranya dengan suka cita, Bacharuddin Jusuf Habibie.

Masa muda Habibie

BJ Habibie melewati masa belia dengan menyenangkan. Selain menunggangi kuda, Habibie muda memiliki hobi membaca. Baginya, tenggelam dalam lautan ilmu ketika membaca buku lebih menggiurkan dari apapun. Bahkan kakaknya harus membujuk agar ia mau keluar rumah.

Di sekolah, ketika guru bertanya tentang cita-cita, Habibie dengan lantang mengungkapkan keinginannya untuk menjadi Insinyur. Dibalik tatapan mata yang berbalut dengan semangat ketika ia mengikrarkan cita-citanya itu akan menggetarkan siapapun yang melihatnya.

Impiannya seakan sirna ketika sang ayah meninggal dunia di saat usianya masih 14 tahun. Bayangan akan sulitnya menjalani kehidupan tanpa sosok kepala keluarga menghantuinya.

Masa depan yang awalnya sudah di dalam genggaman, sekarang seperti pungguk merindukan bulan. Apakah Habibie menyerah dan kalah ketika itu? Jika iya, pastilah kita tidak akan mengenal namanya.

Membuka gerbang cita-cita

Dengan bacaan basmallah, ibu Habibie memulai masa jandanya. Di depan jenazah suami, wanita itu berjanji akan tetap mengutamakan pendidikan anak-anak. Maka langkah pertama, beliau berinisiatif mengirim Habibie ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikannya.

Hidup di perantauan menempa pribadi Habibie menjadi tahan banting. Dalam belajar ia tak kenal kata putus asa. Semua pelajaran dilahapnya terutama eksakta sehingga beberapa kali mendapatkan nilai sempurna. Hal ini terus berlanjut hingga ia pindah sekolah ke Bandung dan melanjutkan pendidikan di Fakultas Teknik Universitas Indonesia yang sekarang bernama ITB.

Enam bulan kuliah di perguruan tinggi berlogo Ganesha itu, Habibie berkesempatan mendapatkan izin belajar ke Jerman dari Kantor Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan sistem delegasi. Artinya kebutuhan hidup harus ia penuhi sendiri. Dengan tekad yang kuat Habibie menyanggupi.

Habibie menyelesaikan studi di Jerman tepat waktu dan langsung mendapatkan pekerjaan. Meniti karir di perusahaan pesawat terbang mengantarkan Habibie menjadi Vice President, posisi nomor dua tertinggi di perusahaan tempat ia bekerja.

Menerbangkan Indonesia

Jiwa nasionalisme memanggil Habibie untuk kembali ke Indonesia. Presiden Suharto menugaskannya sebagai penasehat yang memimpin Advance Technology Division Pertamina. Ini adalah cikal bakal lahirnya Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), lalu Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Kemudian beliau diangkat menjadi Menteri Riset dan Teknologi.

Habibie sangat antusias mengembangkan industri pesawat terbang di tanah air. Hingga datanglah hari itu, Indonesia membuktikan kegagahannya dalam bidang teknologi tingkat tinggi. Uji coba penerbangan pesawat perdana anak bangsa, N-250/Gatotkoco sukses digelar. Dunia tersadar.

Namun pesta harus berakhir ketika Presiden Soeharto tumbang. Pemimpin negara yang baru memutuskan penghentian proyek vital yang ada di IPTN. Tenaga ahli teknologi ini harus terusir dari negara tercintanya dan mengais rezeki di negara orang.

Sayangnya, negara kita sekarang ini membeli pesawat dari negara tempat mereka bekerja. Semoga di suatu saat nanti, akan ada yang meneruskan cita-cita Eyang Habibie ini.