Budaya membuka diri terhadap ilmu

Islam untuk Pemula Roni Haldi Alimi
Opini oleh Roni Haldi Alimi
Budaya membuka diri terhadap ilmu
Budaya membuka diri terhadap ilmu © Ahmad Faizal Yahya | Dreamstime.com

Pernah saya mendapati sebuah penyampaian dari Dr. Muhammad Abu Musa yang menyampaikan, “Abd al-Qaher al-Jarjani adalah seorang penyair (Asy’ari), tetapi dia membuka diri terhadap ilmu al-Jahez (al-Mu’tazili), dan tidak ada yang membaca ilmu al-Jahez seperti yang telah dibaca oleh Abd al-Qaher.

Kemudian al-Zamakhshari (al-Mu’tazili) yang sangat terkenal memegang teguh pemahaman muktazilahnya, tapi beliau sangat kuat membaca apa yang ditulis oleh Abd al-Qaher yang Asy’ari. Jadi dia membaca ilmu Abd al-Qaher (al-Ash’ari), dan tidak ada yang membaca ilmu Abd al-Qaher seperti yang al-Zamakhshari baca.”

Perbedaan umat Islam zaman ini dalam bersikap

Perbedaan antara Muktazilah dan Asyariyah tidak pernah melarang, bahkan sampai masuk pada wilayah mengharamkan aktivitas keilmuan. Karena semakin tinggi budaya orang atau sekelompok orang, semakin saling menerima satu sama lain.

Semakin tinggi keilmuan seseorang atau sekelompok orang, semakin saling berlapang menghargai satu dengan yang lain. Tetapi itu dilarang di zaman kita dan sering dilanggar, tak dianggap penting.

Kelemahan budaya membuka diri mengarah – pasti – pada prilaku tidak pantas berwujud doktrin ketidakbolehan. Bahkan, naik meningkat pada keharaman berinteraksi ilmiah dengan sesiapa atau kelompok apa yang berseberangan pemahaman dengan kelompoknya.

Lebih banyak tidak boleh daripada bolehnya dan lebih banyak dilarang daripada dianjurkan. Atau lebih banyak diharamkan daripada dihalalkan. Aneh memang bagi sesiapa saja yang terbuka merdeka menggunakan akal karunia tertinggi Allah Taala.

Kelemahan budaya membuka diri terhadap ilmu

Tapi begitulah kenyataan yang ada jika diri dikekang dibatasi berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesiapa atau kelompok tertentu. Kelemahan budaya membuka diri terhadap ilmu ternyata juga mengakibatkan efek buruk pada akhlak dengan sesama saudara seiman.

Asal terdengar di telinganya nama seseorang atau dari kelompok yang berbeda pemahaman ilmu dengannya, maka jangan diharap ada ruang dialog berbingkai keilmuan.

Yang tersisa hanya sedikit ruang kecil lagi sempit diisi oleh kebencian dan kedengkian. Padahal beda hanya pada tataran pemahaman bukan yang lain, namun bisa merengsek mengoyak persaudaraan seiman.

Mari petik hikmah pembacaan dua tokoh Asyariyah dan Muktazilah dalam membudayakan membuka diri terhadap keilmuan. Agar substansi perbedaan tak merambah merusak persaudaraan seiman.