Cahaya Islam di Nusantara

Kepercayaan Sanak 28-Jul-2020
Peta lama kepulauan Nusantara © Fong454 | Dreamstime.com

Penyebaran Islam memiliki peranan penting dalam sejarah Indonesia, namun demikian kapan masuknya cahaya rabbani ini masih belum disepakati. Hal ini dikarenakan langkanya sumber-sumber tentang adanya Islamisasi, kalaupun ada sangat tidak informatif.

Ada dua proses yang memungkinkan terjadinya Islamisasi. Pertama, penduduk pribumi mengadakan kontak dengan Islam melalui orang-orang asing yang beragama Islam kemudian mereka menganutnya. Kedua, orang-orang asing yang beragama Islam menetap di Nusantara kemudian terjadi perkawinan dan hubungan kemasyarakatan.

Setidaknya ada empat teori tentang masuknya Islam ke Indonesia.

Pertama, Teori Gujarat yang beranggapan bahwa agama dan kebudayaan Islam dibawa oleh para pedagang dari daerah Gujarat, India yang berlayar melewati selat Malaka sekitar abad ke-13.

Kedua, Teori Persia yang mengemukakan  bahwa Islam masuk ke Nusantara melalui para pedagang yang berasal dari Persia karena pada awal masuknya Islam ke Nusantara di abad ke-13, ajaran yang marak saat ini adalah ajaran Syiah.

Ketiga, Teori Cina yang berpendapat bahwa kebudayaan Islam masuk ke Nusantara melalui perantara masyarakat Muslim China yang bermigrasi ke Nusantara, khususnya Palembang pada abad ke-9 menjadi awal mula masuknya budaya Islam.

Keempat, Teori Mekkah yang menjelaskan bahwa Islam di Nusantara dibawa langsung oleh para musafir dari Arab yang memiliki semangat untuk menyebarkan Islam ke seluruh dunia pada abad ketujuh. Hal ini diperkuat dengan adanya sebuah perkampungan Arab di Barus, Sumatra Utara yang dikenal dengan nama Bandar Khalifah.

Bukti yang meyakinkan mengenai penyebaran Islam adalah prasasti-prasasti yang kebanyakan  berupa batu nisan dan sejumlah catatan perjalanan musafir. Batu nisan Muslim pertama ditemukan di Jawa Timur yang bertarikh 475 Hijriah (1028 Masehi).

Namun, hal ini tidak memastikan mapannya keberadaan Islam karena tidak berada di pemakaman penduduk. Petunjuk yang meyakinkan datang dari wilayah utara Sumatera. Di sebuah pemakaman ditemukan nisan bertuliskan Sultan Sulaiman  bin Abdullah bin Albasyir yang wafat tahun 608 Hijriah (1211 Masehi).

Ibnu Battuta, Musafir Maroko dalam catatan perjalanannya ke Cina tahun 1345 dan 1346 Masehi menuliskan bahwa penguasa di Sumatera mengikuti Mazhab Syafii. Hal ini menegaskan mazhab yang kelak mendominasi Indonesia itu sudah hadir semenjak lama.

Terlepas dari perdebatan panjang, yang dapat dipastikan adalah Islam telah ada di negeri bahari Asia Tenggara semenjak abad permulaan Hijriah. Pada masa pemerintahan Khalifah Usman bin Affan r.a tahun 56 Hijriah (644 Masehi), utusan-utusan Muslim telah menginjakkan kaki di istana Cina yang melalui laut Indonesia.