Cara bepergian atau travelling di masa pandemi

Kehidupan Muhammad Walidin 02-Jul-2020
Interior terminal bandara kosong karena COVID-19 © Fabio Lamanna | Dreamstime.com

Pandemi COVID-19 memberikan efek luar biasa bagi dunia travelling. Para pelancong, baik berbasis tour ataupun berbiaya murah dan mandiri (backpacker) terpaksa harus menunda waktu untuk tujuan ini sampai waktu yang tidak ditentukan.  Pembatalan ini disebabkan oleh anjuran pemerintah untuk tidak bepergian selama pandemi. Di samping itu, setiap negara juga menutup  dirinya dari arus pendatang asing dengan memberhentikan penerbangan.

Untuk memutus rantai penyebaran virus dari tempat asalnya, pemerintah Indonesia menyetop penerbangan dari dan ke Cina sejak tanggal 5 Februari 2020. Kebijakan ini diteruskan dengan pemberhentian seluruh penerbangan, baik domestik maupun internasional sejak tanggal 24 Mei- 1 Juni 2020. Walaupun demikian, beberapa penerbangan pada masa jeda tersebut tetap diadakan dengan protokol penanganan COVID-19 yang ketat. Keadaan ini jelas membuat pelancong yang biasa menggunakan penerbangan mengalami stagnasi di dunia travelling.

Kebijakan menutup lokasi wisata di berbagai daerah juga membuat hasrat pelancong melorot pada titik terendah. Apalagi bila ditambah dengan pemberlakuan kebijakan ‘Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB).  Setiap daerah menerapkan PSBB dalam waktu-waktu yang berbeda sesuai dengan keputusan Kementerian Kesehatan.  Kedua hal ini benar-benar menjadi mimpi buruk bagi para pelancong. Banyak pelancong dari kalangan millenial mengeluh dan merasa pegal seluruh badannya karena telah lama tidak menggeret koper.

Bila anda adalah seorang backpacker, ada cara yang bisa anda terapkan pada  masa pandemi ini. Pertama, ingatlah itinerary perjalanan yang pernah anda susun. Biasanya anda menyisipkan city tour sebagai bagian dari agenda perjalanan. Dalam wisata sehari tersebut, anda akan mengunjungi beberapa ikon kota dan mengexplorasi setiap bagian yang unik. Kegiatan ini menimbulkan semboyan di kalangan backpacker; pantang pulang ke hotel sebelum malam.  Bahkan bila anda tersesatpun, anda akan merasakan sensasi yang menyenangkan dan menganggapnya sebagai anugerah. Begitu bukan?

Nah, pada masa pandemi ini, mengapa anda tidak bepergian secara lokal dan mengeksplorasi kota sendiri? Selama anda tinggal di kota tersebut, apakah anda telah menelusuri semua sudut kota sebagaimana yang ingin anda lakukan di negara orang lain? Tentu belum bukan?

Saya telah melakukan hal ini sejak saya merasa bosan terkurung di rumah. Saya melakukannya dengan cara yang asik dan sesuai protokoler COVID-19. Selepas subuh, saya telah bersiap untuk joging bersama seorang teman. Pertama kali, kami memilih jalan umum sebagai jalur joging. Jalanan yang sepi disertai hawa sejuk adalah anugerah pertama yang kami dapatkan. Kami sempat bertemu dan berpose di beberapa icon kota yang dilalui. Semakin hari, kami menyukai jalanan yang belum pernah kami tempuh.  Ada perasaan bahagia mengenali sudut kota tempat kami tinggal, bahkan hingga ke gang-gang yang sempit. Jalur sesat ini sangat menantang. Kami bahkan semakin rajin mencari jalur-jalur baru yang mendatangkan rasa sensasional.

Tentu saja travelling  susur kota ala backpacker ini tidak harus disertai dengan acara menggeret koper. Dengan cara ini, sehat didapat dan hasrat melancongpun terpenuhi.