Cara cerdik memakai Ihram

Dunia Muhammad Walidin 07-Jul-2020
Salat dengan pakaian ihram © Hikrcn | Dreamstime.com

Ihram adalah salah satu rukun haji dan umrah. Ihram sendiri bermakna niat untuk mengerjakan haji atau umrah dengan memakai pakaian ihram. Setalah ihram dipakai, maka melafalkan talbiyah adalah sunah sebagai tanda dimulainya kegiatan ini. Maka, lantunan kalimat Labbaik Allahuma labbaik, Labbaik laa syarikka laka labbaik, Innal haamda wanni’mata laka wal mulk, Laa syariika laka, akan selalu terucap dari para jamaah.

Memakai ihram harus di laksanakan di Miqat (batas bagi dimulainya ibadah haji/umrah). Para pria harus memakai dua lembar kain tanpa jahitan. Selembar untuk bagian atas dan lainnya untuk bagian bawah. Sementara bagi wanita, pakaian ihram adalah bebas sepanjang menutup aurat. Namun disunahkan berwarna putih.  Namun sayang, tidak semua lokasi di Miqat menyediakan fasilitas kamar ganti. Oleh karena itu, ada tips yang bisa dicoba saat berada di Miqat.

Suatu waktu, penulis sedang melakukan ibadah umrah bersama keluarga dengan mengikuti biro perjalanan haji. Perjalanan umrah kami dimulai dari Madinah. Oleh karena itu, kami telah berpakaian ihram sejak dari hotel. Bapak-bapak berpakaian dua helai kain tanpa jahitan, sementara jemaah wanita berpakaian putih atau juga boleh berwarna. Kami naik bus dan menuju masjid Birr Ali untuk mengambil miqat.

Masjid ini megah, tertata apik, hijau (ada taman), dan yang terpenting luas. Maksud saya luas adalah mampu menampun jema’ah yang akan mengganti pakaiannya dengan pakaian ihram, baik di kamar mandi maupun di dalam masjid (bila belum sempat berganti di hotel). Tidak ada masalah dengan prosesi ihram bila bermiqat dari sini.

Pada hari berikutnya, kami memulai umrah dari Mekkah dan berwisata sejarah seputar kota. Saat berwisata, kami masih menggunakan baju biasa, tapi baju ihram telah kami siapkan di tas. Setelah wisata, kami mengambil miqat umrah di Ji’ronah. Masjid ini kategorinya sedang dengan tempat wudu yang juga sedang. Tidak terbayangkan bagaimana tempat ini menampung jemaah pada musim haji.

Nah, di sinilah mulai timbul kesulitan, di manakah kita mengganti pakaian? Ternyata para jemaah mengganti pakaian mereka dengan kain ihram di dalam masjid. Jadilah, kami juga mengganti pakaian di dalam, bercampur baur dengan orang yang juga akan salat sunnat ihram. Di sini belum timbul ide….

Pada keesokan harinya dalam menjalankan umrah sunah ketiga, kami mengambil miqat di Hudaibiyah. Seperti biasanya, pihak travel mengajak kami city tour dahulu sebelum miqat. Dengan demikian, kami juga akan berganti pakaian di tempat miqatMasjid Hudaibiyah (tempat miqat) tergolong sangat kecil dengan tempat wudu yang tidak memadai.

Beruntung jemaah pria di bus kami punya ide. Daripada berbuka-buka ria di masjid yang kecil itu, kami semua jemaah laki-laki meminta jemaah perempuan untuk turun dahulu, lalu kami semua berganti pakaian ihram di dalam bus. Sayang, ini adalah miqat terakhri, padahal kami telah menemukan cara berihram yang bebas merdeka.

Saran saya, kecuali di Birr Ali, gantilah pakaian ihram anda di bus. Sebelumnya, mintalah jamaah perempuan untuk turun terlebih dahulu.