Cari selamat atau meyakini kebenaran?

Kehidupan Komiruddin 25-Agu-2020
Cari selamat? © Fizkes | Dreamstime.com

‘Cari aman’ atau ‘Cari selamat’ adalah istilah yang dialamatkan kepada orang yang resah dengan keadaan tapi tidak berani menyuarakan keresahannya sebab ada risiko yang harus ia tanggung. Jadilah ia diam dan mengikut apa kata tuannya walau hatinya merintih tak setuju.

Kalau istilah orang Palembang, ‘Iyo kan bae. Ngecik-ngecik kan bala. Setujuin aja. Ngecilkan risiko.’  Dalam bahasa Arab agar tidak disalahkan dalam membaca, maka setiap akhir kata disukunkan.

‘Sakkin taslam atau Sukunkan, kamu akan selamat’. Sukun bermakna, mati, diam atau tidak bergerak.

Cari selamat biasanya menimpa bawahan yang resah terhadap sikap dan kebijakan atasan yang tidak atau kurang mengakomodir berbagai kepentingan. Resah ini dipendam sendiri atau sebatas bisik bisik tetangga, belum sampai menimbulkan gerakan atau hanyaobrolan di ruangan kecil dan sudut sudut sepi, tidak sampai mencuat ke ruang publik.

Masalahnya, Jika berkoar-koar dan sampai muncul ke permukaan, akan ditandai dan bisa jadi fasilitas yang selama ini dinikmati akan hilang atau harapan hanya tinggal harapan.

Sebab atasan yang memegang polisi/kebijakan bisa mengancam masa depannya, atau memutuskan sumber sumber rizki dan menjungkalkan periuk nasinya. Namun jika diam, akan selamat tapi tak nyaman.

Suatu keyakinan dibenturkan dengan keadaan dan diuji dengan realitas. Keyakinan bahwa Allah SWT telah menetapkan rizki setiap makhluk-Nya. Dan kondisi realitas yang meresahkan, menggelisahkan dan mengancam keberadaan tidak sesuai ide.

Bila ide itu bersifat pribadi dan dampaknya kepada pribadi mungkin tidak terlalu masalah. Seseorang bisa bersabar. Namun bila keresahan dan kegelisahan ini sifatnya kolektip  dan dampaknya meluas, ini perlu difikirkan solusinya

Diam tak bersuara karena menyelamatkan kepentingan pribadi dalam kondisi seperti ini adalah dosa. Ibarat bahtera, membiarkan nakhkodanya salah arah dalam mengemudi akan menyebabkan bahtera tidak sampai kepada tujuan. Bahkan mungkin tenggelam diterjang badai.

Maka jika kita sudah meyakini kebenaran konsep, kelurusan ide dan sehatnya manhaj tidak ada yang harus kita takuti. Kita wajib memperjuangkannya sebesar apapun risikonya. Ajal dan rizki sudah ditetapkan. Tak ada yang dapat menghalangi bila sudah tiba waktumya. Tak ada yang bisa memberi manfaat jika itu bukan bagian dan takdir yang telah ditulis.

Itulah keyakinan dan akidah kita. Keyakinan yang secara turun temurun diwariskan. Memegang warisan ini adalah suatu keniscayaan.

Rasulullah SAW  bersabda: “Ketahuilah apabila semua umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah SWT tetapkan untukmu.

Dan seandainya mereka pun berkumpul untuk menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak dapat membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah SWT tetapkan bagimu. Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah kering.” (Hadis riwayat at-Tirmidzi, Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas r.a, hadis ini hasan sahih)