Catatan untuk Tatanan Baru

Kehidupan Sanak 05-Jun-2020
Tatanan baru atau new normal © Lutfi Hanafi | Dreamstime.com

Tatanan baru atau ‘New normal’ adalah tatanan, kebiasaan, dan perilaku yang baru berbasis pada adaptasi untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat.

Bagi sebagian orang, kenyataan hidup seperti ini sudah dijalankan semenjak pertama kali pandemi COVID-19 ditetapkan. Mereka tetap beraktivitas dan mendapatkan penghasilan sebagaimana biasa, bedanya hanya tempat bekerjanya saja.

Namun bagi sebagian besar lainnya tidak sesederhana itu, bahkan lebih mengerikan. Produksi menurun, sektor industri jasa nyaris lumpuh, akibatnya gelombang Program Keluarga Harapan (PKH) di mana-mana, lalu ancaman kelaparan bagai di depan mata.

New normal adalah harapan baru sebagaimana yang telah berlaku di Kota Pekanbaru. Sejak diterapkan minggu lalu, tepatnya tanggal 28 Mei 2020, Kota Pekanbaru mulai menggeliat. Sektor ekonomi bagai bangkit dari mati suri.

Aktivitas pasar tradisional, swalayan, mall,  pertokoan, dan lalu lintas mulai terlihat ramai. Pedagang makanan dan jajanan di Ibu Kota Provinsi Riau ini juga telah memulai usahanya meskipun sekolah belum buka. Pada malam hari, tempat tongkrongan anak muda seperti café dan warung kopi juga telah mulai berisi.

Hampir semua warga menggunakan masker pada saat beraktivitas di luar rumah. Rumah makan dan restoran juga menyediakan tempat mencuci tangan dan sabun pada bagian depan pintu masuk. Bank dan perkantoran menerapkan ‘social distancing’ pada pengantre.

Satu hal yang membahagiakan dari new normal ini adalah diperbolehkannya jamaah untuk mendatangi masjid. Pemerintah Kota  Pekanbaru, menerbitkan Surat Edaran (SE) walikota terkait penyelenggaraan kegiatan rumah ibadah di tengah pandemi Coronavirus Disease 2019 atau COVID-19. Terdapat 7 poin dalam SE bernomor 451/SE/1024/2020 tersebut.

Pada poin ketiga, secara lugas diatur protokol kesehatan secara ketat terhadap penyelenggaraan rumah ibadah dengan ketentuan :

  • Pengurus melakukan pembersihan/sterilisasi secara berkala dan melakukan penyemprotan disinfektan.
  • Pengurus rumah ibadah menyediakan fasilitas pencuci tangan, pengukur suhu tubuh, dan petugas pelaksananya menerapkan protokol kesehatan.
  • Mempersingkat bacaan saat pelaksanaan ibadah tanpa mengurangi kesempurnaan ibadah.
  • Melaksanakan ibadah dengan menerapkan protokol kesehatan. Bagi umat muslim membawa sajadah dari rumah, menggunakan masker, mencuci tangan dan menghindari berdiam lama di rumah ibadah.
  • Bagi yang memiliki gejala demam agar beribadah di rumah.

Meskipun diatur sedemikian rupa, kita patut bersyukur dengan diterapkannya aturan ini. Semoga saja hasil dari tatanan baru ini akan seindah namanya. Dan semoga kita bisa segera  hidup benar-benar secara ‘normal’ tanpa embel-embel ‘new’ di depan atau di belakangnya.