Celakalah bagi orang yang berlaku curang

Islam 15 Des 2020 Komiruddin
Komiruddin
Celakalah bagi orang yang berlaku curang
Celakalah bagi orang yang berlaku curang © - Dreamstime.com

Dalam kehidupan ada hak dan kewajiban. Masing-masing harus dipenuhi sesuai dengan ketentuan yang sudah disepakati. Seorang guru mempunyai kewajiban mengajar pada waktu tertentu dan dia mendapatkan haknya berupa gajih atau honor.

Seorang pegawai mempunyai kewajiban hadir di kantor dan melakukan pekerjaan yang sudah tentukan dan dia mendapatkan haknya berupa gajih atau honor yang dibayar sesuai kesepakatan.

Celakalah bagi orang yang berlaku curang

Seorang pedagang berkewajiban menjual barang sesuai dengan permintaan pembeli dan dia mendapatkan haknya berupa harga penjualan yang sudah disepakati. Begitu juga kaitannya dengan berbagai propesi seperti dosen, dokter, advokat, pengacara, notaris, anggota dewan, dll.

Mereka wajib melaksanakan kewajibannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dan dengannya dia mendapatkan hak berupa bayaran yang telah disepakati.

Tidak melaksanakan kewajiban atau menguranginya dari yang semestinya sedang ia mengambil hak dengan penuh adalah kecurangan yang diancam Allah seperti dalam surah Al-Muthaffifin.

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?”

(Surah al-Muthaffifin, ayat 1-6)

Surah Al-Muthaffifin berbicara pada kecurangan dalam transaksi jual beli. Sebab pada umumnya saat itu mata pencaharian mereka adalah berniaga. Maka kecurangan yang paling banyak dilakukan saat itu adalah dalam transaksi jual beli.

Al-Muthaffifin yakni mengurangi atau menambah sedikit

Pada ayat pertama terdapat kalimat al-muthaffifin yang berasal dari kata thaffafa artinya ‘mengurangi atau menambah sedikit’. Menurut Ibnu Kathir, kalimat ath-thathfif artinya ‘pengambilan sedikit dari timbangan atau penambahan’. Maksud dari semua itu adalah kecurangan dalam timbangan.

Jadi al-muthaffifiin para pelaku kecurangan tersebut. Karena itulah surah ini diberi nama Al-Muthaffifin. Rahasia dipilihnya kalimat ini padahal arti sebenarnya sedikit adalah karena yang diambil mereka sebenarnya sedikit sekali, tetapi dosanya besar.

Ayat ini berlaku umum untuk setiap transaksi yang mengharuskan terlaksananya kewajiban sebagaimana mestinya sebagai imbalan mendapatkan hak yang sudah disepakati.

Maka, mengurangi durasi waktu mengajar seorang dosen atau guru, buruknya pelayanan seorang dokter, tidak terpenuhinya standar minimal pelayan dari berbagai profesi adalah diantara bentuk kecurangan.

Sebab mereka mendapatkan imbalan penuh sementara pekerjaan tidak dikerjakan sebagaimana mestinya. Inilah yang harus kita waspadai.