Cerdas dalam beragama

Islam Roni Haldi Alimi
Roni Haldi Alimi
Cerdas dalam beragama
Cerdas dalam beragama © Odua | Dreamstime.com

“Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekusaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagaian takwil mimpi. Wahai Tuhanku pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh.”

Pengakuan diri jauh dari keakuan telah dicontohkan Nabi Yusuf alaihi salam. Begitu banyak nikmat telah dianugerahi diantaranya; kekuasaan dan takwil mimpi. Bukannya membutakan mata hatinya malah membuka kecedasannya menyadari kekurangan serta kelemahan diri dihadapan Allah ‘Azza wa Jalla.

Cerdas dalam beragama

Kepahaman akan adanya akhir dari kehidupan mendorong Nabi Yusuf alaihi salam menyampaikan permohonan agar diwafatkan dalam keadaan beriman dan ditempatkan bersama orang yang saleh.

Ada awal tentu ada akhir, bermula kehidupan tentu berakhir dengan kematian. Itulah kepahaman tentang adanya sesuatu yang tetap tak berubah disebut dengan tsawabit dan muthaghayyirat yaitu yang mengalami perubahan dalam kehidupan.

Dibutuhkan kecerdasan diri dalam beragama dan memahami teks serta konteks dalam agama. Namun jika merasa diri lebih dalam berilmu, maka akan menutup diri dari koreksi dan evalusi.

Nabi Yusuf a.s saja telah memastikan hanyan sebagian saja dari kekuasaan dan ilmu takwil mimpi yang diberi Allah. Apatah lagi kita manusia biasa. Ilmu manusia terukur diukur Yang Maha Mengetahui.

Kekuatan manusia terukur oleh Yang Maha Kuat. Itulah kandungan pelajaran dari surat Yusuf, ayat 101. Mengokohkan diri akan jati diri sebenarnya akan sesuatu yang tetap dan berubah.

Tatkala kepergian kali ketiga sepuluh saudara dengan membawa Bunyamin. Berat sebenarnya melepas anaknya. Saat hikmah telah Allah SWT sempurnakan pada pengetahuan Nabi Ya’kub a.s sehingga ia memerintahkan agar sepuluh saudara memasuki pintu yang berbeda dengan Bunyamin.

Disaat kepulangan mereka hanya membawa gandum, tanpa Bunyamin tentu menjadikah hati ayah mereka hancur. Kemarahan telah menanti, umpatan dan cercaan pasti mereka dapatkan. Alasan dibalut kebohongan mereka pakai dihadapan Nabi Ya’kub a.s. Bukannya meminta maaf, malah menyalahkan Bunyamin yang mereka tinggalkan.

Apa jawaban Nabi Ya’kub a.s? Baginda menjawab: “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.”

Memahami tsawabit  dan mutaghayyirat

Surat Yusuf ayat 86 membenarkan, disaat seseorang telah dianugerahi ilmu kemudian disempurnakan dengan hikmah akan menjadikaanya tegar kuat tak bergeming terhada ujian.

Ilmu membuat Nabi Ya’kub a.s yakin terhadap skenario Allah SWT atas jalan hidup keluarganya. Dan hikmah menjadikannya lapang dada bersih hati. Terbuka pikiran tak terbawa amarah benci mensikapi laku buruk berulang kali dari sepuluh saudara yang juga anaknya sendiri.

Yang bawa bermain lalu didzalimi disingkirkan adalah Yusuf a.s, anaknya. Yang dibawa ke Mesir lalu dibiarkan ditinggal pergi adalah Bunyamin, adalah juga anaknya. Ilmu disempurnakan dengan hikmah,

Bagaimana kaitan ilmu dan hikmah? Ilmu yang beriringan hikmahlah yang akan melahirkan sosok bijaksana. Ilmu memang sungguh penting. Akan tetapi, adab dan hikmahlah yang menentukan dan menjaga ilmu.

Mengutip kata-kata Imam Ibnu Mubarak:

“Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun, sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”

Mengapa? Sebab, dengan berilmu dan berhikmah, kita akan mudah dan luwes mempraktikkan nilai agama. Memahami tsawabit (aspek bersifat tetap) dan mutaghayyirat (aspek bersifat fleksibel) dengan kedalaman ilmu.

Kemudian mengaplikasikan tsawabit dan mutaghayyirat dengan adab serta hikmah. Inilah proses kita mencerdaskan diri dalam berislam, berharakah dan berorganisasi sebagaimana keluasan dan keluwesan ajarannya yang sempurna.