Cinta dan benci sekadarnya

Kehidupan Roni Haldi Alimi 03-Okt-2020
dreamstime_s_161318255
Cinta dan benci sekadarnya © Airdone | Dreamstime.com

Dalam keseharian ternyata acap kita berhadapan pada kondisi diri untuk mencintai atau membenci. Cinta dan benci sekadarnya – mencintai siapa dan apa saja, juga membenci siapa dan apa saja. Ketika rasa mencintai terlalu tinggi menempati di diri, terlalu luas mengisi ruang hati. Terjatuh dalam jurang kekecewaan berbalutkan kesedihan takkan terelakkan lagi. Terlalu telanjur mencintai.

Begitu juga jika membenci terlalu diikuti lagi dituruti. Tatkala rasa membenci mendominasi, bahkan sampai menguasai diri, sampai menutup pekat kejernihan hati. Diri akan mudah tertarik terseret ke dalam kobaran api dendam permusuhan yang berakhir perpisahan. Terlalu telanjur membenci.

Jangan berlebihan dalam suka atau benci

Rasulullah SAW juga pernah mengingatkan agar jangan berlebih-lebihan dalam suka atau benci.

“Cintailah kekasihmu (secara) sedang-sedang saja, siapa tahu pada suatu hari nanti ia akan menjadi musuhmu; dan bencilah orang yang engkau benci (secara) biasa-biasa saja, siapa tahu pada suatu hari nanti dia akan menjadi kecintaanmu.”

(Hadis riwayat at-Tirmidzi)

Kita tidak pernah tahu apa yang terbaik sebelum Allah SWT singkap rahasianya. Kadangkala sesuatu yang kita rasa itu baik sebenarnyaberupa keburukan di akhirnya. Dan sebaliknya, kita merasa sesuatu itu buruk padahal sebenarnya kebaikan di ujungnya. Ketika baik dan buruk diukur dengan syahwat dan hawa nafsu, maka yang terjadi adalah sesuatu itu dianggap baik karena menyenangkan dan dianggap buruk karena menyulitkan.

Islam mengajarkan untuk mengambil sikap yang wasathiyyah atau pertengahan. Kita mencintai sesuatu karena mungkin belum mengetahui keburukan di dalamnya. Dan kita membenci sesuatu karena mungkin belum mengetahui kebaikan di dalamnya. Karena itu, jika menghadapi hari-hari yang dipenuhi kabut mendung kegelapan, situasi yang memicu jengkel, sikap seseorang yang menyebalkan, janganlah kita terburu-buru menyalahkan siapa-siapa.

Sebab, boleh jadi, itu merupakan ‘tamu’ yang harus diterima dan dilayani. Demikian pula jika menjalani hari-hari yang nyaman, kemudahan demi kemudahan, jangan pula cepat terlenakan. Sebab, boleh jadi, itu juga “tamu” yang datang untuk menguji.

Al-Hasan al-Bashri dalam Ni’matul Ukhuwwah menuliskan:

“Cintalah kalian biasa-biasa saja. Bencilah kalian biasa-biasa saja. Sungguh ada sebuah kaum yang terlalu cinta, maka mereka binasa. Ada juga sebuah kaum yang terlalu benci, maka mereka binasa.”

Jangan terlalu dalam segalanya, cukup sekadarnya saja

Jangan terlalu dalam segalanya. Cukup sekadarnya saja. Jangan terlalu cinta, jangan terlalu benci. Jangan terlalu suka, jangan terlalu duka. Sederhana itulah yang selalu menyelamatkan hati kita.

Pihak yang kita benci terkadang selalu menghantui pikiran kita. Ketika kita benci terhadap seseorang atau kelompok, salah satu penyebabnya adalah perbedaan antara kita dan mereka. Apakah itu perbedaan pemahaman, pandangan, ideologi, rujukan, dan bahkan arah jalan. Kita merasa diri paling benar; begitupula mereka yang juga menganggap dirinya paling benar.

Kita memang tidak mesti sama dengan mereka. Mereka juga tak harus sama dengan kita. Namun, jurang pemisah semakin menjauh hanya karena perbedaan. Terlalu cinta dan terlalu benci bisa menutup aliran darah segar ke akal pikiran. Terlalu cinta dan terlalu benci bisa menutup mata hati dan mata diri.

Janganlah kita terlalu mencintai sesuatu karena – siapa tahu – suatu saat akan membencinya. Begitu juga ketika membenci sesuatu, jangan sampai kita berlebih-lebihan; karena kita tidak tahu,mungkin suatu saat akan mencintainya.

Semoga Allah SWT membimbing kita untuk mencintai dan membenci sesuatu dengan tepat porsi dan sekadarnya saja.