Pendapat 25-Jun-2020

Corona yang datang dan nurani yang pergi

Muhammad Walidin
Kolumnis
COVID-19 telah banyak mengubah perilaku masyarakat © Lutfi Hanafi | Dreamstime.com

Pandemi virus corona alias COVID-19 telah banyak mengubah perilaku masyarakat. Rajin mencuci tangan, memakai masker jika keluar rumah, jaga jarak, menggunakan hand sanitizer adalah perilaku baru masyarakat global. Sayang sekali, Perubahan perilaku tersebut juga berpengaruh kepada perubahan nurani. Orang-orang yang terpapar virus corona mendapat stigma negatif dan mendapatkan perlakuan buruk dari saudara sebangsanya, bahkan seagama dengannya.

Sebut saja namanya Siti, seorang perawat di Rumah Sakit Palembang. Dengan penuh tanggung jawab ia melakukan tugas keperawatannya. Pasien COVID-19 yang terus bertambah membuat jadwal kerjanya semakin berat. Kekhawatiran terpapar terus menghantui, apalagi saat itu rumah sakit belum siap menerima pasien COVID-19 karena persediaan Alat Pelindung Diri (APD) yang minim. Tak lama, kekhawatiran itu berubah menjadi kenyataan.

Menjelang malam, mereka kedatangan pasien sesak nafas. Siti dan kawan-kawan perawat Unit Gawat Darurat (UGD) melakukan pemeriksaan. Berhubung sebelumnya tidak ada pernah kasus COVID-19, maka mereka belum mempersiapkan diri menghadapi serangan ini. Pemeriksaan diteruskan ke bagian rontgent. Jadwal rotasi jaga tiba. Perawat siang hingga menjelang malam pulang dan diganti dengan perawat malam hingga pagi.

Dari hasil pemeriksaan rontgent, paru-paru pasien tadi ternyata mengandung cairan. Diagnosis sementara pasien terpapar COVID-19, tetapi alat rapid test saat itu belum tersedia untuk memastikan status positif COVID-19. Semua perawat yang kontak terhadap pasien tersebut ditelepon untuk segera kembali ke rumah sakit dan dikumpulkan.

Seketika ruangan itu pecah dengan suara tangisan. Enam orang perawat berpelukan seperti terdakwa yang sedang menunggu vonis dari hakim. Mereka segera diambil spesimen lendirnya (swab), diisolasi di sana sambil menunggu hasil tes Polymerase Chain Reaction (PCR).

Pendek kata, mereka semua positif COVID-19. Namun penyembuhan berjalan lancar karena sejatinya mereka termasuk kategori orang tanpa gejala (OTG). Kategori ini mudah diobati karena bukan pasien kronis. Setelah dinyatakan negatif, semua perawat dinyatakan layak pulang.

Berlainan dengan kawan-kawannya, Siti mendapat kabar bahwa ayah dan ibunya juga terpapar virus corona karena pernah kontak dengannya saat pulang dari rumah sakit dua minggu lalu. Mereka sedang melakukan isolasi mandiri di rumah. Ia memutuskan tidak pulang dan mencari kos (indekos) di salah satu kampung dekat rumah sakit.

Setelah kos didapat, iapun segera beristirahat di sana.  Rupanya ketenangan Siti hanya berlangsung semalam. Esok harinya, pemilik kos yang tahu kalau ia adalah perawat rumah sakit mengusirnya dari kos karena diduga membawa virus corona.

Terkejut, sedih, kecewa, dan marah mengaduk-aduk hati Siti. Ia protes bahwa ia adalah pekerja kemanusiaan dan negatif COVID-19. Mengapa ia diperlakukan seperti ini? Di manakah hati nurani manusia masa pandemi? Namun ibu kos bergeming.

Siti mengadukan perlakuan buruk ini ke direktur rumah sakit tempatnya bekerja. Ia dijemput kembali dengan mobil rumah sakit dan mendapat pembelaan. Sebagai solusinya, Siti akan pulang ke rumah dan ayah ibunya yang sedang isolasi mandiri akan dirawat di rumah sakit. Tentu saja setelah rumahnya didisenfektanisasi.

Terhadap fenomena ini penulis teringat hadis Nabi Muhammad SAW bahwa persaudaraan Muslim itu ibarat satu tubuh, bila satu anggota sakit, maka seluruh badan juga turut merasa sakit.

Bila pandemi kita anggap sebagai ujian iman, kita harus melipatgandakan potensi rahmah terhadap sesama yang kita coba bangun selama ini. Sebab, hanya dalam masa ujian kita biasanya mencurahkan segala potensi yang ada agar bisa lulus dari babak ini.

Artikel terkait
Pendapat
Pendapat 18-Jun-2020
Muhammad Walidin
Kolumnis

Namaku Husein. Aku adalah perawat  junior  di sebuah rumah sakit pemerintah di kota besar di Pulau Sumatera. Akhir-akhir ini rasa khawatir mengalir deras dalam fikiranku. Betapa tidak, pekerjaanku cukup beresiko untuk terpapar.

Terus Terus
Pendapat
Pendapat 10-Jun-2020
Muhammad Walidin
Kolumnis

Oleh karena itu, kita akan mencari alternatif kata Angpao yang sekiranya pas untuk dilekatkan pada momen Lebaran. pencarian akan dimulai dari istilah-istilah dalam tradisi Arab, Islam, Indonesia, dan Melayu. Penelusuran padanan angpao dari bahasa di atas dipandang pas karena dianggap sebagai  akar dari tradisi Lebaran idulfitri.

Terus Terus
Pendapat
Pendapat 08-Jun-2020
Muhammad Walidin
Kolumnis

Bila ditelusuri dari sunah Nabi Muhammad SAW dalam menyambut Idul Fitri,  memang ditemukan istilah yang bisa dikaitkan dengan angpao. Diketahui  ada tujuh kebiasaan beliau dalam menyambut hari ini:

Terus Terus
Pendapat
Pendapat 05-Jun-2020
Muhammad Walidin
Kolumnis

Secara konvensi, waktu mudik nusantara ditetapkan menjelang Lebaran Idul Fitri setiap tahunnya. Mudik lebaran telah menjadi agenda sosial tahunan yang masif.

Terus Terus