Dakwah itu cinta, cinta adalah seni

Dakwah itu cinta © Airdone | Dreamstime.com

Dakwah ini untuk semua manusia dan bertujuan menuntun mereka ke jalan Allah SWT dan menyelamatkannya dari bahaya kesesatan. Cinta adalah seni yang harus selalu melekat dalam pribadi penyeru kebenaran. Dengannya segala cobaan dan ujian dalam dakwah menjadi mudah dan ringan.

Cinta yang akan merajut persaudaraan, kebersamaan, saling tolong menolong dan semangat mendahulukan. Cinta yang mengedepankan prasangka baik, pemaafan, tabayyun (menyimak dengan teliti), menghindari tajassus (mencari aib orang) dan penghinaan.

Cinta yang mengobarkan semangat pengorbanan dan perjuangan walau derita dan susah harus dirasakan. Cinta yang hanya bermaksud memberikan kenyamanan kepada yang diajak dan kebahagian.

Lihatlah kata lembut yang keluar dari mulut seorang Ibrahim a.s ketika memanggil ayahnya, dengan ungkapan ‘ya abati’ (wahai ayahanda) walau sang ayah memusuhi dakwahnya dan tetap dalam kesesatan.

Perhatikan juga panggilan kesayangan nabi Nuh a.s kepada anaknya Kan’an yang durhaka saat akan tenggelam, dengan panggilan ‘ya bunayya’ (wahai ananda), walau anaknya tak bergeming dan tetap bertahan.

Atau Lukmanul Hakim ketika mengajar dan mendidik anaknya, ‘ya bunayya’. Panggilan yang terselip di dalamnya cinta dan kedamaian. Dan panggilan para nabi terhadap kaumnya dengan panggilan ‘ya qaumi’ wahai kaumku, sebagai isyarat ia di tengah kaumnya adalah bagian.

Renungkan hadis-hadis berikut ini, yang menggambarkan betapa cintanya Rasulullah SAW kepada umatnya, hingga terhadap bahaya siap menghadang.

“Sesungguhnya perumpamaanku dan ajaran yg dengannya Allah SWT mengutusku adalah bagaikan seseorang yg mendatangi kaumnya seraya berkata;’Wahai kaumku, sungguh aku telah melihat pasukan musuh, dgn mata kepalaku sendiri, datang untuk menyerbumu dan aku benar-benar pemberi peringatan yg tulus untuk keselamatan dirimu.

Maka sebagian kaumnya ada yg patuh dan taat, hingga akhirnya mereka secara perlahan-lahan berangkat pergi dari kampung tersebut pada malam hari untuk menghindari serbuan pasukan musuh. Namun, ada pula sebagian kaumnya yg mendustakan orang yg memberi peringatan dan mereka tetap bertahan serta menetap di kampung itu sampai pagi hari.

Tapi sayangnya, pasukan musuh menyerbu dan merusak kampung mereka di pagi hari. Itulah perumpamaan orang yg mematuhi dan mengikuti ajaran yg aku bawa, serta perumpamaan orang yg durhaka dan mendustakan kebenaran yg aku sampaikan.” (Hadis riwayat Muslim, no. 4233)

“Perumpamaanku dgn umatku ialah bagaikan seorang yg menyalakan api. Maka serangga-serangga berterbangan menjatuhkan diri ke dalam api itu. Padahal aku telah berusaha menghalaunya. Dan aku, telah mencegah kamu semua agar tak jatuh ke api, tetapi kamu meloloskan diri dari tanganku.” (HR Muslim, no. 4234)

Demikianlah dakwah, bila disampaikan dengan cinta, maka akan berbuah cinta, walau awalnya kadang tak seindah yang dibayangkan.