Dari azan aku menjadi penganut agama Islam

dreamstime_s_92734320
Dari azan aku menjadi penganut agama Islam © Arne9001 | Dreamstime.com

Menjelang akil balig, aku semakin suka menanti waktu Subuh atau juga menunggu waktu Magrib. Aku suka mendengar kumandang azan Subuh dan Magrib dari menara-menara masjid di kampung tempat kami tinggal. Kesukaan ini agak aneh karena aku adalah keturunan Tionghoa penganut Konghuchu sebagaimana keluarga besarku.

Namaku Dr. Junadi. Terlahir dari keluarga keturunan Tionghoa di Palembang. Ayah ibuku penganut Konghuchu. Secara otomatis, aku dan empat saudaraku juga menjalankan praktek ibadah sesuai kepercayaan ini, sampai suatu ketika hidayah datang kepadaku lewat suara azan.

Sebagai penganut Konghuchu, aku  diyakinkan bahwa Tian/Tuhan yang maha esa (Tian Shi) mengajarkan manusia agar manusia mampu membina diri hidup di jalan suci, yaitu hidup menegakkan firman Tian yang berwujud watak sejati; hakikat kemanusiaan. Dalam kitab Wu Jing, Tian mengandung enam dimensi (maha besar, tinggi, pemurah, kuasa, pencipta alam). Meskipun ada enam dimensi, tetapi tetap dia yang esa.

Di samping itu, aku juga mengerti berbagai istilah dan peribadatan Islam sejak sekolah dasar. Aku memang  terbiasa berbaur dengan teman-teman berbagai agama, termasuk teman muslim. Menjelang kelas 4 SD hingga SMP, aku malah berkenalan dengan agama Kristen. Seseorang mengajak kami ke sekolah minggu di gereja.

Aku mulai berkenalan dengan Trinitas; bahwa Tuhan adalah tiga pribadi yang terdiri dari Bapa, Putra (Yesus), dan Roh Kudus. Tentu saja di usia yang semuda itu, aku sering berfikir tentang kebenaran agama karena telah  dihadapkan dengan tiga konsep ketuhanan yang berbeda.

Aku beruntung telah diperkenalkan dengan varian konsep ketuhanan sejak dini. Dari sinilah aku memulai pertanyaan, persis seperti Nabi Ibrahim a.s. Mengapa Konghuchu memiliki begitu banyak visualisasi Tuhan yang tak ubahnya seperti ciptaan? Di manakah letak kedigdayaannya bila sama?

Mengapa Yesus dianggap Tuhan dalam Kristen sementara dalam Islam ia hanyalah seorang Nabi? Mengapa Islam tidak menvisualisasikan Allah SWT sebagaimana agama-agama lain? Sebenarnya aku sudah mendapatkan jawaban. Aku telah memilih Islam sebagai agamaku dan menjaga mulut ini dari makanan haram. Bahkan saat mendaftar di SMA, aku hampir saja menuliskan Islam sebagai agama, tetapi hati ini masih bingung.

Lagi-lagi, kumandang azan subuh itu menusuk relung hatiku. Ia selalu membangunkanku dari buaian. Melesapkan entah apa namanya ke dalam hati ini. Apakah kalimat-kalimat syahadat dari azan itu terpecah menjadi partikel terkecil sehingga melayang menjadi butiran hidayah dan tersemai dalam hati?

Mengapa ajakan menuju kemenangan dalam azan itu sering kali menghasikan bulir-bulir air mata syahdu? Apakah lantunan Allahu Akbar itu pertanda aku harus meng-Esakan Tuhanku? Melabuhkanku ke dermaga Islam? Inilah suara kumandang azan yang selalu kutunggu, baik di kala Subuh maupun Magrib tiba.

Sore hari di tahun 1992. Aku rebah. Aku tak sanggup menolak ajakan azan itu. Aku langkahkan kakiku menuju rumah guru agama Islam SMA aku. Aku utarakan maksudku masuk Islam. Ibu guru tidak langsung mengiyakan. Ia meminta agar aku datang ke kantor besok di sekolah. Di sana, guru-guruku telah berkumpul.

Walaupun mereka bahagia ada seseorang yang akan konversi ke Islam, tapi mereka ingin mendapatkan alasan yang mantap mengapa aku memilih Islam. Di depan mereka, aku mantap bersyahadat. Mereka membelikanku buku-buku Islam untuk kupelajari. Aku resmi menjadi Muslim, tapi aku masih menutup diri dari keluargaku.

Sepanjang SMA hingga Kuliah di Fakultas Kedokteran, aku belum bebas mengungkapkan ke-Islamanku karena syarat khitan belum terpenuhi. Baru setelah praktek kedokteran tahun 2003 di Tangerang aku dikhitan oleh seorang Spesialis Bedah. lega rasanya telah melengkapi seluruh syarat ke-Islaman. Aku bebas beribadah di manapun, tanpa harus sembunyi-sembunyi lagi.

Alhamdulillah, Islam ternyata juga menghampiri kakak perempuanku, bahkan ibuku memeluk Islam sebelum beliau meninggal dunia. Aku tuntun beliau mengucapkan la ilaha illah.

(Wawancara langsung dengan Dr. Junaidi)