Degradasi keimanan dan kesalehan

Islam 09 Des 2020 Tholhah Nuhin
Terbaru oleh Tholhah Nuhin
Degradasi keimanan dan kesalehan
Degradasi keimanan dan kesalehan © - Dreamstime.com

Degradasi keimanan dan kesalehan – setiap muslim pasti tidak menginginkan keimanan yang bersemayam dalam relung kalbunya mengalami kelemahan. Akibatnya amal ibadah dan kesalehan yang merupakan barometer keimanannya mengalami degradasi atau penurunan.

Karena itu, setiap muslim tentu menginginkan kesalehan dan kebaikannya senantiasa ekses dalam ruang kepribadiannya dan kemudian menjelma dalam ruang sosialnya.

Degradasi keimanan dan kesalehan

Namun, kesalehan dan kebaikan ini bisa bertahan, atau bahkan berkembang   dengan ditentukan oleh kondisi keimanannya. Sejauh mana ia berusaha  menyuburkan keimanannya dengan ketaatan dan kesoaehan. Oleh karenanya, Rasulullah SAW dalam sebuah hadisnya mengajarkan kepada kita sebuah doa sebagai berikut.

“Ya Allah, Engkau lah teman dalam perjalanan dan khalifah dalam keluarga. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari beratnya perjalanan dan keburukan kondisi, dari kekurangan setelah kesetabilan, dari doa orang yang terdzalimi, dan dari buruknya pemandangan terhadap keluarga dan harta.”

(Hadis riwayat at-Tirmidzi, hadis hasan sahih)

Dalam hadis ini, makna berlindung dari kekurangan adalah isyarat kepada setiap muslim untuk khusyuk berdoa agar keimanannya tidak mengalami penurunan, dan agar kesalehan dan kebaikannya dari hari ke hari semakin berkembang dan berbuah.

Namun, dalam realitas kehidupan muslim, tidak dapat dipungkiri adanya degradasi keimanan, kesalehan, dan kebaikan. Pada akhirnya hal ini melahirkan penyimpangan dan kesesatan dalam kehidupan. Kondisi dan fenomena ini pernah dialami oleh kaum sebelum kita. Secara eksplisit, al-Quran menggambarkannya dalam ayat berikut ini.

“Maka, datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.”

(Surah Maryam, ayat 59)

Oleh karena itu, munculnya generasi terbiasa menyia-nyiakan salat dan mengikuti hawa nafsu. eperti yang disebutkan dalam ayat di atas, disebabkan oleh tidak adanya perhatian dari generasi sebelumnya.

Berlaku adil, tegakkan seluruh nilai kebenaran

Pendahulunya tidak memberikan pemahaman dan pembinaan terhadap mereka secara kontinu. Karena, apabila manusia tidak memiliki pemahaman yang baik tentang agamanya, ia cendrung mengikuti apa yang diinginkan hawa nafsunya.

Itulah sebabnya, ketika ia memiliki pemahaman yang tidak baik, atau adanya intervensi syubhat dalam paradigma pemikirannya, atau adanya dominasi syahwat yang berlebihan, ia akan mempunyai kecendrungan meyimpang dari jalan kebenaran.

Dalam Madaarijus Salikin dan Zaadul Ma’aad, hal ini ditegaskan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziah, ia berkata ”Bahwasanya akar penyimpangan dan kesesatan seseorang bermuara pada dua faktor yaitu, syubhat dan syahwat”.

Oleh karenanya, Allah SWT mengingatkan Nabi Daud a.s untuk berlaku adil, menegakkan seluruh nilai kebenaran. Tidak mengikuti libido atau hawa nafsunya, tatkala diberikan amanah sebagai khalifah di muka bumi ini. Perhatikan ayat berikut ini.

“Hai Daud,   sesungguhnya  Kami  menjadikan  kamu   khalifah (penguasa)  di muka bumi,  maka  berilah keputusan  (perkara)  di antara  manusia dengan  adil dan  janganlah  kamu mengikuti  hawa nafsu,   karena  ia  akan  menyesatkan  kamu  dari  jalan  Allah. Sesungguhnya  orang-orang  yang  sesat  darin  jalan  Allah  akan mendapat  azab   yang  berat,    karena  mereka   melupakan  hari perhitungan.”

(Surah Shaad, ayat 26)