Demi waktu Fajar

Agama Komiruddin 28-Agu-2020
dreamstime_s_74522754
Demi waktu Fajar © Lu Yang | Dreamstime.com

“Demi waktu Fajar. Dan malam yang sepuluh. Dan yang genap dan ganjil. Dan malam apabila berlalu.” (Quran, surah Al-Fajr, ayat 1-4)

Begitulah Allah SWT membuka surat Al-Fajr ini dengan bersumpah kepada empat hal yang merupakan aksioma kehidupan, waktu Fajar, dan malam yang sepuluh (tanggal 1-10 Zulhijah), malam yang genap dan ganjil dan malam apabila telah berlalu.

Surah ini sebahagian isinya bercerita tentang peradaban sekaligus kekuatan dunia yang pernah ada di muka bumi.

Dimulai dari cerita kaum Aad yang mendiami lembah Iram dan memiliki bangunan tinggi yang belum pernah ada sebelumnya. Lalu kaum Tsamud yang memahat gunung untuk dijadikan tempat menghuni. Dan terakhir Fir’aun yang memiliki bala tentara yang sangat kuat.

Tiga peradaban manusia yang pernah ada di muka bumi, tapi semuanya berujung pada kehancuran yang mengenaskan, betapa pun mega dan kuatnya. Hancur, karena kerusakan yang mereka lakukan begitu banyak dan sudah melampaui batas nalar kemanusian.

Tentu, ketika Allah SWT membuka surah ini dengan bersumpah dengan empat hal tersebut pasti ada isyaratnya. Dan isyarat tersebut ada pada ayat selanjutnya. “Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal.” (Surah Al-Fajr, ayat 5)

Sesungguhnya Allah SWT ingin mengatakan betapapun gelapnya malam, pasti akan berlalu, cepat ataupun lambat. Betapa kelamnya malam pasti akan berakhir, dan cahaya Fajar pasti akan menyinsing, tak ada satu kekuatanpun yang dapat menghalangi. Persis seperti kezaliman dan kesewenang-wenangan, pasti akan berakhir betapapun kuat dan hebatnya.

Inilah yang memberikan energi dan harapan kepada Rasulullah SAW dan para sahabatnya saat mereka tertindas di kota Mekkah. Dan ini juga yang memberikan harapan dan energi bagi kita, penerus risalahnya, untuk tidak putus asa dan hilang harapan, Segelap apapun keadaan, dan sekelam apapun kezaliman.

Itulah benang merah antara sumpah Allah SWT di awal surah dengan kisah tiga peradaban manusia yang fenomenal, bahwa kehancuran merupakan sunatullah yang akan selalu berlaku pada setiap kezaliman dan kesewenang-wenangan sepanjang sejarah kemanusian.