Diuji karena mampu!

Masyarakat Roni Haldi Alimi
Roni Haldi Alimi
Diuji karena mampu!
Diuji karena mampu! © Chamaiporn Kitina | Dreamstime.com

Ada saat ketika seseorang sampai pada titik jenuh, disebabkan kesusahan yang melilit, beban yang mengimpit,jugaderaan sakit yang amat sulit. Menggerutu putus asa acap kali menguasai diri.

Kehilangan arah tujuan, rapuhnya tempat berdiri, dan goyangnya sandaran hati. Kegalauan memenuhi jiwa,sedangkan kegoncangan sangat menggetarkan segenap indra.

Diuji karena mampu

Ujian hadir buat yang sanggup menyambut kedatangannya. Beban ujian takkan diturunkan melainkan atas izin sepengetahuan Yang Mahakuasa terhadap jiwa dan diri yang kokoh tegar dalam keimanan.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

(Quran surah al-Baqarah, 2:286)

Tatkala Nabi Yusuf a.s yang masih kecil dilempar dan ditinggal dalam sumur pengasingan, tentu akal berpikir begini: ia akan mati kedinginan dan kelaparan. Perasaan bercampur aduk dengan logika bermain.Tidaklah mungkin Yusuf sehat apalagi selamat dari makar saudara seayah lagi serumah.

Namun, jaminan Yang Mahakuasa telah jatuh berpihak kepada Yusuf a.s. Keteguhan hati sang ayah, Nabi Ya’qub a.s, dan kesabaran Yusuf dibalas pertolongan agung oleh Yang Maha Menepati Janji.

Sakinah disemaikan dalam kegundahan hati Nabi Yusuf a.s, keselamatan dari marabahaya dibuktikan, dan kabar gembira telah disiapkan pada masa akan datang.

“Maka ketika mereka membawanya dan sepakat memasukkan ke dasar sumur, Kami wahyukan kepadanya, “Engkau kelak pasti akan menceritakan perbuatan ini kepada mereka, sedang mereka tidak menyadari.” (Quran surah Yusuf, 12:15)

Kesanggupan seseorang terhadap ujian telah diukur batas daya tahannya oleh Allah Taala. Nabi Yusuf a.s sanggup lagi mampu melewati ujian maut dalam sumur. Melewati makar jahat tak berperi dari sepuluh saudaranya. Jiwa bersih dan hati ikhlas dibingkai dengan kesabaran telah meneguhkan hidayah Allah terhadap Yusuf.

Tawakal meneguhkan kesabaran diri

Abu Shuhaib bin Sinan radhiyallahu’anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginya. Dan yang demikian itu hanya ada pada seorang mukmin. Jika mendapat kesenangan dia bersyukur, maka syukur itu baik baginya. Dan jika mendapat musibah dia bersabar, maka sabar itu baik baginya.”

(Hadis riwayat Muslim)

Seorang mukmin memiliki pesona jiwa dan diri. Dan pesona itu berawal dari positive thinking. Ketika mendapatkan kebaikan, ia refleksikan dalam bentuk syukur terhadap Allah Taala karena ia memang paham bahwa itu merupakan anugerah-Nya.

Dan tidaklah Allah SWT memberikan sesuatu kepadanya melainkan pasti sesuatu tersebut adalah positif baginya. Sebaliknya, jika ia mendapatkan suatu ujian, maka ia akan bersabar.

Karena ia yakin, hal tersebut merupakan pemberian sekaligus cobaan bagi dirinya yang memiliki rahasia kebaikan yang terpendam. Sederhananya, seorang mukmin sadar dan paham atas ujian dan cabaran yang ditimpakan kepadanya, hati dan dirinya memahami dan menerima segala yang berlaku.

“Waktu yang akan menjelaskan dengan baik ketulusan seseorang. Niat baik, dan tujuan-tujuannya. Jika sejatinya memang baik, maka seiring waktu berjalan, akan terlihat semakin terang; sebaliknya, jika hanya topeng, maka seiring waktu berlalu, pasti akan terbuka juga.”

Demikian dikatakan novelis Tere Liye.

Keburukan makar jahat tak mampu ditutup rapi walaupun sumur disangka mengubur hasad dengki. Janji Allah SWT akan membuka topeng dusta sepuluh saudara menunggu waktu yang berjalan.

Keikhlasan yang dilandasi kesabaran meyakinkan – bahkan menguatkan – Nabi Yusuf a.s menapaki episode hidup penuh ujian. Keyakinan diri akan keterbatasan membuat jiwanya menggantung harapan kepada Yang Mahakuasa semata.

Kejenuhan akan hilang merayap, kegalauan karena kegundahan akan lenyap menepi. Tawakal meneguhkan kesabaran diri melewati ujian Ilahi.