Dua sang teladan dalam kehidupan

Dua sang teladan dalam kehidupan © Yusuframzad | Dreamstime.com

Siapakah sebenarnya yang menjadi teladan selama ini dalam kehidupan kita? Betulkah ia adalah sosok yang mampu memberikan inspirasi dan motivasi perubahan dalam kehidupan menjadi lebih baik? Dan benarkan cara hidupnya mampu menjadikan kita insan yang lebih bermakna dalam menjalani kehidupan yang sementara ini?

Untuk itu, mari kita menghampiri kembali sosok teladan yang sesungguhnya. Manusia yang dilahirkan dan diberikan kesempurnaan oleh Allah untuk menjadi suri teladan atau role model,  teladan terbaik sepanjang zaman. Dialah Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Muhammad SAW.

Dua pribadi ini disebut dalam Al-Quran. Pertama, Allah SWT berfirman: “Sunggguh telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya.” (Surah al-Mumtahanah:4)

Dan Allah SWT memuji Nabi Ibrahim a.s sebagai pemimpin orang-orang yang mencintai kebenaran dan bapak para Nabi. Kedua, Allah berfirman: “Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (Surah al-Ahzab:21)

Pondasi ajaran ketauhidan itu dibuktikan dengan perjuangan Nabi Ibrahim a.s dalam menghadapi raja yang zalim penyembah berhala (Namrudz) beserta kaumnya dan bahkan ayah kandungnya juga ikut larut dalam perbuatan dosa mensekutukan Allah.

Namun, Ibrahim a.s berhasil menjalani ujian ketauhidan dan diabadikan oleh Allah SWT dalam al-Quran sebagai sosok teladan yang disandingkan dengan Nabi Muhammad SAW. Ajaran Nabi Ibrahim juga menjadi syariat yang masih kita laksanakan hingga saat ini yaitu ibadah haji dan ibadah kurban.

Nabi Muhammad SAW adalah pribadi unggul, paripurna dan mulia. Baginda sangat dicintai umatnya. Saat ini hampir seperempat penduduk bumi mengikuti ajaran Muhammad. Ini bukan suatu kebetulan saja. Ianya melalui proses panjang perjuangan dakwah yang Baginda jalankan dengan pengorbanan dan kesabaran yang luar biasa.

Selalu saja keberhasilan dakwah baginda Nabi Muhammad SAW berawal dari keluhuran akhlak dan budi pekerti, sehingga banyak umat berbondong-bondong masuk ke dalam Islam bukan karena terpaksa tapi penuh kerelaan setalah melihat kenyataan bahwa yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad adalah kebenaran yang tidak bisa terbantahkan oleh akal sehat. Pada masa kejayaannya Islam pernah tersebar dan menguasai dua pertiga dunia.

Maka wajar seorang penulis Nasrani memberikan apresiasi yang menarik. Michael H. Hart, seorang guru besar astronomi dan fisika perguruan tinggi di Maryland, Amerika Serikat melakukan sebuah kajian tentang tokoh-tokoh sejarah yang paling pengaruh. Michael H. Hart menempatkan Rasulullah SAW pada urutan pertama, dengan alasan yang jelas dan tegas.

Pertama, tokoh-tokoh yang dia tulis diuntungkan karena faktor geografis di mana mereka dilahirkan dan dibesarkan di pusat-pusat peradaban dan berbudaya. Sedangkan Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada tahun 570 Masehi di Mekkah, selatan Arabia yagn pada masa itu merupakan wilayah terbelakang di dunia yang jauh dari pusat perdagangan, budaya dan ilmu pengetahuan.

Kedua, Nabi Muhammad SAW kecilnya sudah dalam keadaan yatim piatu dan dibesarkan dalam lingkungan yang bersahaja. Ketiga, Nabi Muhammad merupakan sosok sentral dalam perkembangan Islam di dunia, bahkan Baginda dengan kepemimpinannya yang bijak mampu melakukan sejumlah penaklukan bangsa Arab dan menjadi pemimpin agama sekaligus pemimpin politik yang paling berpengaruh sepanjang sejarah.

Keteladanan yang ada pada diri dua teladan (Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Muhammad SAW) mencakup berbagai dimensi. Baginda teladan terbaik dalam memimpin keluarga, suami yang baik bagi istri-istrinya, mencintai anak-anaknya dengan setulus hati dan mencintai cucu-cucunya. Hal sederhana dalam kehidupan, sering Nabi Muhammad contohkan kepada umatnya.

Pernah beberapa kali Rasulullah SAW membawa kedua cucunya itu ke masjid dengan menggendongnya di atas bahu. Ketika berdiri dan membaca ayat dalam salat, sang cucu tetap digendongnya. Pada waktu hendak rukuk dan sujud keduanya diturunkan kemudian digendong kembali pada rakaat selanjutnya. Pernah juga Rasulullah sujudnya lama, ternyata Baginda menunggu cucunya puas main kuda-kudaan sebelum akhirnya Baginda bangkit dari sujudnya.

Keteladanan dalam berbisnis dan berwirausaha, juga ada pada diri Rasulullah SAW, bahkan di usia remajanya Baginda sudah keliling jazirah arab untuk berdagang. Dalam hal berdakwah dan mengajak umat ke dalam Islam juga tidak diragukan perannya. Dalam hal sosial politik Baginda juga adalah diplomat ulung yang berhasil menaklukkan dan mengajak raja-raja zalim untuk menerima dakwah Islam.

Pendek kata, ketika saat ini kita begitu sulitnya mencari sosok teladan dalam berbagai dimensi kehidupan, maka kembalilah untuk menakpatilasi sejarah kehidupan dua sosok teladan (Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Muhammad SAW)  dalam kehidupan yang apabila kita jadikan sebagai role model dalam kehidupan kita maka akan sukses di dunia dan di akhirat.