Dua tangga dari kesempurnaan berislam

Iman Tholhah Nuhin 26-Okt-2020
dreamstime_s_121637860
Dua tangga dari kesempurnaan berislam © Rawpixelimages | Dreamstime.com

Islam bisa diaktualisasikan dalam berbagai dimensi kehidupan. Untuk menuju muslim ideal dan menjadi mukmin yang sebenarnya, setiap kita harus melalui dua tangga ini; Tangga Afiliasi dan Tangga Partisipasi.

Tangga Afiliasi

Dalam tangga ini, seorang muslim harus memahami dengan baik, mengapa ia memilih Islam sebagai agama dan jalan hidup. Yang  mampu membentuk komitmen akidah terhadap nilai-nilai Islam itu sendiri. Memahami satuan-satuan ajaran Islam sebagai sistem dan tatanan kehidupan sehingga ia mampu membaca dan memahami berbagai peristiwa dan masalah kehidupan dalam kaca mata Islam.

Ini akhirnya mampu membentuk komitmen syariat dalam dirinya. Ia menjadikan Islam sebagai akhlak dan prilaku sehari-hari, sebagai pribadi, dalam keluarga, dalam masyarakat dan dalam pekerjaan. Akhirnya, ia mampu membentuk komitmen akhlak dalam dirinya. Inilah tahapan iman dan amal saleh.

Dan di sini seorang muslim menjadi saleh untuk dirinya sendiri atau ‘nafi’un linafsihi’ (bermanfaat untuk dirinya sendiri). Maka perlu dibutuhkan tangga berislam selanjutnya yaitu; tangga partisipasi.

Tangga Partisipasi

Setelah seorang muslim melalui tahapan diri sendiri dalam lingkaran khusyuk iman dan amal saleh, ia mulai terlibat dalam kehidupan sosial masyarakat muslim sebagai salah satu peserta sosial yang sadar dan proaktif. Ada tiga hal yang harus dilakukan olehnya dalam tangga ini:

  • Memiliki rasa keprihatinan yang tinggi terhadap masalah-masalah kaum muslimin, sebab Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia bukan dari golongan mereka.”  “Orang yang berjalan kepada para janda dan fakir miskin (pahalanya) seperti orang yang berjihad di jalan Allah…” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah)
  • Memiliki sejumlah sosial-humaniora yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat, agar keterlibatannya dilakukan secara sadar, terarah dan dewasa. “Berilmulah sebelum beramal.” (Hadis riwayat Imam Al-Bukhari)
  • Ia juga harus mengetahui dan menguasai peta dan medan lingkungan social budaya di mana ia hidup, agar ia tahu cara memasuki dan merubah masyarakat ke arah Islam. Di sini, ia menjadi saleh mushlih, muslim yang senantiasa memperhatikan dan memainkan peran seorang dai dalam situasi dan kondisi apapun.

Jiwanya tidak pernah tenang sebelum melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Matanya tidak pernah bisa terpejam selama dalam lembaran kehidupan sosial di sekitarnya masih ada noda kemaksiatan dan kemungkaran. Dan waktu istirahatnya telah berlalu di saat ia meyakini bahwa setiap kebenaran yang diyakini harus ditransfer dari ruang kepribadiannya menuju ruang sosial. Setiap kebaikan yang dilakukan harus menjadi kebaikan kolektif.