Eksistensi keislaman di era modernisasi

Filsafat Merry Lestari
Opini oleh Merry Lestari
Eksistensi keislaman di era modernisasi
Eksistensi keislaman di era modernisasi © Reezky Pradata | Dreamstime.com

Eksistensi keislaman yang ada pada era modernisasi dan globalisasi saat ini menggambarkan tentang sebuah fenomena keislaman sebagai sebuah tren. Bagaimana tidak dikatakan sebuah tren? Hampir sebagian masyarakat menjadikan agama sebagai dalih untuk mengikuti sebuah trend yang sedang berlaku.

Seperti cara berpakaian, hingga perilaku-perilaku yang mengatasnamakan Islam namun sangat jauh berbeda dari ajaran Islam yang  ada.

Eksistensi keislaman di era modernisasi

Eksistensi atau secara garis besar dapat diartikan sebagai sebuah keberadaan. Jadi eksistensi keislaman dapat dikatakan sebagai sebuah keberadaan keislaman di tengah zaman yang serba modern pada saat ini.

Sebagaimana fenomena yang sering terjadi di sekitar kita pada saat ini, bahwa keberadaan nilai-nilai islami pada era modern saat ini cukup memprihatinkan. Salah satunya adalah banyaknya aliran-aliran yang menyebabkan umat Islam menjadi terpecah belah.

Keterpecah-belahan inilah yang kemudian menjadi ancaman terbesar bagi umat muslim. Karena dengan adanya berbagai aliran yang saling mengatakan kebenaran akan diri sendiri ini, akhirnya dapat mengancam eksistansi agama.

Tak hanya sampai di situ saja, keberadaan Islam di era modern pada saat ini sangat terpengaruh oleh adanya tren-tren terkini yang banyak disertai dengan iming-iming keislaman.

Masa modern saat ini memberikan kita berbagai prinsip modern yang selalu mengedepankan rasionalitas. Sedang dunia islam tak dapat dipisahkan dari aturan-aturan yang ada di dalam al-Quran.

Meskipun demikian, bukan berarti al-Quran tak dapat mengikuti perkembangan zaman yang ada pada saat ini.

Islam dan masyarakat modern

Namun sayangnya, ada sebagian umat muslim yang justru mengartikan kefleksibelan agama Islam ini terlalu berlebihan. Mereka menganggap bahwa segala bentuk modernisasi pada saat ini dapat diterima dalam aturan agama.

Padahal pada kenyataannya tak semua bentuk modernisasi yang ada dapat diterima dan sesuai seluruhnya dengan norma serta nilai yang ada dalam Islam.

Seperti fenomena-fenomena muslimah yang berjoget dalam beberapa aplikasi yang tengah trending pada saat ini, tidaklah mencerminkan eksistensi keislaman.

Hal-hal seperti itu bukanlah bagian dari modernisasi yang sesuai dengan ajaran Islam. Namun, nampaknya karena kurangnya pemahaman terhadap kefleksibelan Islam ini membuat masyarakat muslim modern menganggap bahwa hal tersebut adalah hal yang biasa.

Padahal hal-hal seperti itu bukanlah kebiasaan umat muslim. Sedangkan Nabi Muhammad SAW telah mengatakan bahwa jika kita menyerupai suatu kaum, maka sama saja seperti kita menjadi bagian dari kaum tersebut.

Seperti yang tertuang dalam suatu hadis di bawah, dari Amr ibn Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwasanya Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda:

“Bukan termasuk golongan kami siapa yang menyerupai kaum selain kami. Janganlah kalian menyerupai Yahudi, juga Nashrani, karena sungguh mereka kaum Yahudi memberi salam dengan isyarat jari jemari, dan kaum Nasrani memberi salam dengan isyarat telapak tangannya.”

(Hadis riwayat at- Tirmidzi, hasan)