Ekspresi malu yang terpuji

Psikologi Tholhah Nuhin
Opini oleh Tholhah Nuhin
Ekspresi malu yang terpuji
Ekspresi malu yang terpuji © Chernetskaya | Dreamstime.com

Rasa malu dapat terekspresikan kaitan hal-hal yang ada hubungan dengan Allah SWT dan kaitan dengan manusia.  Adapun malu kepada Allah diekspresikan dalam bentuk ketaatan kepada seluruh perintah Allah.

Dan ini juga termasuk menjauhi serta meninggalkan seluruh larangan dan kemaksiatan kepada Allah Taala.

Ekspresi malu yang terpuji

Maka seorang hamba tidak akan melakukan sesuatu yang dilarang, tidak meninggalkan sesuatu yang diperintah-kan selama dia mampu mempertahankan rasa malu dalam dirinya.

Rasa malu kepada Allah SWT membuat dirinya ringan melakukan kebaikan yang diridai-Nya, membuatnya tidak nyaman melakukan sesuatu yang dibenci-Nya.

Imam Ahmad, Imam Tirmidzi dan lainnya meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra. dia berkata Rasulullah SAW bersabda:

“Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu,” Baginda berkata. Kami berkata: “Wahai Nabiyullah, sesungguhnya kami benar-benar malu dan segala puji bagi Allah,” Rasulullah bersabda: “Bukan itu, akan tetapi malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu; ketika engkau menjaga kepala dan apa yang ia fikirkan, engkau menjaga perut dan apa yang ia mengisinya, kamu mengingat mati dan yang menghancurkannya.  Barangsiapa yang menghendaki akhirat, maka ia akan meninggalkan perhiasan dunia.  Maka siapapun yang telah melakukan hal itu maka ia sungguh telah malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.”

Rasa malu mencegahnya berbuat zalim kepada sesama

Adalah Hasan Al-Bashri ketika ditanya tentang rahasia keindahan hidupnya, maka beliau menyebutkan empat hal, salah satunya beliau mengatakan:

“Aku tahu dan yakin bahwa Allah senantiasa mengawasi diriku, maka aku malu berbuat maksiat dihadapan-Nya.”

Adapun malu kepada manusia akan terekspresikan dengan berakhlak mulia kepada mereka. Bermuamalah dengan cara yang makruf, menjaga diri untuk tidak menyakiti mereka. Tawaduk dan rendah hati, tidak mengkhianati mereka, tidak menipu mereka demi mendapatkan harta mereka.

Demikianlah rasa malu akan mencegahnya berbuat zalim kepada sesama. Jika dia seorang pemimpin, maka tidak akan mengambil hak rakyatnya. Dan jika ia seorang pedagang tidak akan menipu pembelinya.

Jika dia seorang produsen tidak akan menghasilkan produk yang membahayakan konsumennya. Maka jadilah rasa malu itu perpanjangan tagan dari keimanannya dalam menjaga dirinya dari keburukan.