Empat pelajaran yang dapat dipetik dari kisah surah al-Kahfi

Al-Quran Asna Marsono
Pilihan oleh Asna Marsono
Empat pelajaran yang dapat dipetik dari kisah surah al-Kahfi
Empat pelajaran yang dapat dipetik dari kisah surah al-Kahfi © Fahira Islamiyah | Dreamstime.com

Surah Al-Kahfi adalah Surah ke-18 kitab suci al-Quran. Surah ini diturunkan di Makkah. Dalam Surah ini, Allah SWT telah memberi kita pelajaran penting dengan menyebutkan empat peristiwa di masa lalu.

Fakta dan pelajaran yang harus dipelajari dari mereka diberikan secara singkat di bawah ini untuk pembaca:

Penduduk Gua (Ashab Al-Kahf) di surah Al-Kahfi

Kita semua kurang lebih sudah pernah dengar mengenai cerita penduduk gua ini. Dikisahkan beberapa pemuda diusir dari sebuah negeri oleh seorang Raja yang kejam setelah mereka mengakui keimanannya terhadap Allah SWT. Para pemuda tersebut memasuki sebuah gua untuk berlindung, Allah membuat mereka tertidur dalam waktu yang sangat panjang.

Ketika mereka bangun, mereka mulai berbicara satu sama lain bahwa mereka telah tidur selama sekitar satu setengah hari. Ketika salah seorang dari pemuda tersebut dikirim ke kota untuk membeli makanan, dia berpikir bahwa orang-orang mungkin mengenalinya dan memberi tahu raja untuk menghukum pemuda tersebut.

Tetapi, justru dia menemukan dirinya sebagai orang asing di antara semua orang di kota yang dia kunjungi itu. Penduduk kota kagum melihatnya dan koin yang digunakannya 300 tahun yang lalu. Ini artinya, Allah SWT secara ajaib membuat mereka tertidur selama lebih dari 300 tahun.

Pada dasarnya, kejadian ini menunjukkan bagaimana Allah Taala melindungi hamba-hamba yang bertawakal kepada-Nya dari kesulitan. Kita harus belajar dari kejadian ini, kepercayaan penuh dan iman kepada Allah melindungi kita dari segala marabahaya.

Pemilik dua kebun di surah al-Kahfi

Kisah ini terjadi pada seorang pria yang memiliki dua taman yang indah, tetapi karena ini, ia menjadi sombong. Dikutip dari Surah al-Kahfi yang artinya:

“Dan dia memiliki kekayaan besar, maka dia berkata kepada kawannya (yang beriman) ketika bercakap-cakap dengan dia, ‘Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat.’”

(Quran surah al-Kahf, 18:34)

Dari kejadian tersebut, Allah SWT memberikan kepada salah satu dari dua orang temannya dua kebun yang dikelilingi oleh pohon-pohon palem, penuh dengan buah-buahan dan di antara dua kebun tersebut, terdapat ladang dan kolam.

Dengan kata lain, kedua taman ini seperti mimpi bagi seorang petani. Dengan berkat besar ini, teman sombong itu mulai menganggap dirinya lebih unggul dari orang lain. Pada awalnya, ia mengklaim bahwa kekayaannya abadi, kemudian ia lanjut menyangkal adanya dunia akhirat. Karena alasan itu, Allah Taala menghancurkan dua taman yang dia miliki.

Ada pelajaran dalam insiden ini bagi orang-orang yang jatuh cinta kepada dunia dan melupakan kebesaran Allah SWT menjadi tidak tahu berterima kasih. Allah telah mengingatkan kita bahwa Dia dapat mengambil apa pun dari mereka jika Dia menghendaki.

Kisah Nabi Musa a.s dan Nabi Khizir a.s

Rasulullah SAW bersabda, “Setelah Musa berpidato di depan umatnya. Pada saat itu seseorang bertanya kepadanya, ‘Siapa orang yang paling bijaksana?’ Nabi Musa a.s menjawab ‘Aku’, kemudian Allah SWT memberitahu Musa bahwasannya Allah tidak menjadikannya seorang pun yang tahu segalanya tentang dunia ini.

Allah SWT berfirman, ‘Sesungguhnya aku mempunyai seorang hamba di persimpangan dua lautan yang lebih bijaksana dari pada dirimu.”

Nabi Musa a.s pun berdoa, “Ya Tuhan kami, Bagaimana aku bisa menemukannya? ” Allah memberi tahu Musa tentang identitasnya, yang dikenal sebagai Khizir a.s.

Musa a.s melakukan perjalanan dengan Nabi Khizir a.s dan menyadari bahwa Allah SWT memberikan pengetahuan kepada siapa pun yang Dia kehendaki. Karena Allah pemilik dari segala pengetahuan, tidak ada seorang pun yang dapat berbangga-bangga terhadap pengetahuan yang mereka miliki.

“Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya.”

(Quran surah al-Kahf, 18:82)

Zulkarnain raja keadilan

Zulkarnain adalah raja yang adil dan jujur, ia melakukan perjalanan ke seluruh dunia dari barat ke timur. Perjalanan ini disebutkan dalam surah al-Kahfi. Pada perjalanan terakhir hidupnya, ia menemukan sebuah desa di antara dua gunung.

Orang-orang dari desa itu memohon padanya untuk membangun tembok untuk melindungi mereka dari tirani Yajuj dan Majuj. Zulkarnain pun lalu melakukan pekerjaan itu.

Zulkarnain  tidak pernah bangga dengan pekerjaannya, Sebaliknya, ia yakin bahwa ini terjadi atas izin Allah SWT.

“Dia (Zulkarnain) berkata, ‘(Dinding) ini adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila janji Tuhanku sudah datang, Dia akan menghancurluluhkannya; dan janji Tuhanku itu benar.’”

(Quran surah al-Kahf, 18:98)

Ada banyak hadis yang menggambarkan keutamaan surah al-Kahfi. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW berpesan, “Barangsiapa membacakan surah al-Kahfi  pada hari Jumat akan tercerahkan dari Jumat ini ke Jumat berikutnya.”

Semoga Allah Taala memberikan rahmat kepada kita untuk belajar mengenai kehidupan melalui ajaran surah al-Kahfi. Amin yaa Robbal ‘alamin.