Empati warga Aceh terhadap pengungsi Rohingya

Duka Rohingya adalah duka kita © Akbar Solo | Dreamstime.com

Myanmar, sebuah negara di Asia tenggara dengan mayoritas penduduknya beragama Budha dan terdiri dari multi etnis. Setidaknya ada 135 etnis  yang bertempat tinggal negara Myanmar. Salah satu etnis yang saat ini menjadi sorotan dunia adalah etnis muslim Rohingya yang sejak lama telah tinggal di provinsi Rakhine (Arakan), Myanmar. Perlakuan berbeda dirasakan betul oleh sebahagian besar etnis Rohingya sejak beberapa tahun terakhir. Puncaknya pada 2017 lalu ketika mereka diusir secara skala besar dari rumah-rumah mereka oleh militer Myanmar dengan alasan untuk memerangi militan Rohingya yang bergerilya di provinsi Rakhine.

Ada banyak hal yang melatarbelakangi kondisi yang terjadi pada warga Rohingya. Mulai dari akar sejarah etnis Rohingya yang menurut warga mayoritas di Myanmar berbeda dan bukan etnis asli Myanmar tapi berasal dari Bangladesh. Rohingya juga tidak dianggap ke dalam 135 etnis resmi negara tersebut. Mereka juga telah ditolak kewarganegaraannya di Myanmar sejak 1982, yang secara efektif membuat mereka tanpa kewarganegaraan di tempat tinggalnya.

Pemimpin Arakan Rohingya National Organisation (ARNO), Nurul Islam, mengatakan etnis Rohingya telah tinggal di Rakhine  sejak dahulu kala. Mereka merupakan orang-orang dengan budaya dan peradaban yang berbeda-beda. Jika ditelusuri, nenek moyang mereka berasal dari orang Arab, Moor, Pathan, Moghul, Bengali, dan beberapa orang Indo-Mongoloid. Permukiman Muslim di Arakan telah ada sejak abad ke-7 Masehi. Akan tetapi pengakuan sepihak ini tidak mendapat restu dari pemerintah, yang akhirnya menganggap Rohingya bisa menjadi ancaman bagi Myanmar.

Sejak konflik Rohingya terjadi beberapa tahun lalu,sampai saat ini masih menyisakan banyak permasalahan sosial dan kemanusiaan. Sebahagian besar etnis Rohingya yang terusir dari Rakhine  memilih untuk melarikan diri ke berbagai negara. Bangladesh, Malaysia, Australia dan Indonesia adalah diantara negara yang sampai saat ini menampung pengungsi Rohingya. Mereka kebanyakan meninggalkan Myanmar melalui jalur laut dengan kapal-kapal sederhana dan reyot yang tak jarang karam ditengah lautan diterjang ganasnya ombak samudera hindia.

Aceh, salah satu provinsi di Indonesia beberapa kali menjumpai kapal-kapal pengungsi Rohingya terdampar di perairan Aceh. Rasa iba akan kondisi pengungsi menjadikan warga untuk memilih menyelamatkan mereka. Beberapa hari lalu sebanyak 94 pengungsi etnis Rohingya yang berada dalam kapal yang kabarnya dalam kondisi rusak terdampar di perairan Aceh Utara diselamatkan nelayan di Desa Lancok, Lhokseumawe, pada Kamis sore, 25 Juni.

Mereka dibawa ke daratan oleh para nelayan setelah mendapat desakan dari para penduduk sekitar. Pemerintah setempat awalnya menolak menurunkan para pengungsi ke darat terkait pandemi Covid-19, namun warga terus mendesak dengan alasan kemanusian. Rasa iba dan haru menyaksikan puluhan anak-anak dan wanita dalam kondisi lemah dan kelaparan menimbulkan empati dari warga Aceh Utara.

Dikabarkan bahwa kapal tersebut tujuan awalnya adalah ke Malaysia karena berharap mendapatkan perhatian dari negara tersebut, namun belum sempat memasuki perairan Malaysia sudah dicegat dan tidak dibolehkan masuk ke perairan Malaysia. Dan pengungsi Rohingya sudah diselamatkan oleh warga Aceh Utara. Ke-94 pengungsi Rohingya ditempatkan di pondok-pondok pinggir pantai. Warga di sana juga berpatungan membelikan makanan untuk ‘manusia perahu’ tersebut. Saat ini sudah ditangani pihak imigrasi Aceh dan dilakukan pendataan serta diberikan tempat tinggal sementara sampai ditemukan solusi oleh pemerintah Indonesia.

Duka Rohingya adalah duka kita. Kondisi ratusan ribu pengungsi Rohingya dan korban yang sudah tidak terhitung jumlahnya adalah bukti nyata bahwa kita belum mampu berbuat banyak untuk mereka. Kepedulian warga Aceh yang membantu secara sadar pengungsi Rohingya adalah langkah nyata untuk memanusiakan manusia yang merupakan wujud dari pengalaman nilai-nilai Pancasila. Tentunya solusi dari permasalahan ini, kita berharap ada perhatian serius dari lembaga dunia seperti PBB dan UNHCR agar pengungsi Rohingya mendapatkan kehidupan yang layak dan tempat tinggal yang manusiawi ke depannya.