Etika berbisnis Rasulullah SAW

Bisnis Kkartika Sustry
Kkartika Sustry
Etika berbisnis Rasulullah SAW
Etika berbisnis Rasulullah SAW © Odua | Dreamstime.com

Salah satu cara mencari rezeki bagi manusia yaitu berbisnis. Seseorang yang berbisnis harapannya  memperoleh keuntungan yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Namun, dalam agama Islam juga diatur hal-hal yang dibolehkan dalam berbisnis. Juga hal-hal yang tidak dianjurkan dalam berbisnis agar terhindar dosa dan merugikan orang lain.

Etika berbisnis Rasulullah SAW

Rasulullah SAW sudah mencontohkan cara berbisnis yang baik, tentu tidak hanya mendapatkan keuntungan melainkan wasilah menjalin silaturahmi. Bagaimana etika yang diajarkan oleh Baginda dalam berbisnis?

Maka bisa kita lihat sifat-sifat yang ditunjukkan ketika berbisnis:

Pertama: Jujur

Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan bisnis dan berdagang dari usaha Khodijah r.a ketika itu, ia mendapatkan kepercayaan penuh dari Khodijah karena kejujuran dalam menjalankan amanah. Bukan hanya kepercayaan dari Khodijah tetapi juga dari para pelanggan.

Rasulullah SAW selalu mengatakan dagangannya dengan jujur, ia menjual dengan dagangan kualitas terbaik. Namun, jika ada dagangan yang cacat maka akan dijelaskan sebelumnya agar para pembeli tidak kecewa. Baginda bersabda:

“Tidak dibenarkan seorang muslim menjual suatu barang yang mempunyak aib, kecuali ia menjelaskan aibnya.”

(Hadis riwayat al-Quwazni)

Kejujuran modal awal dalam berdagang, hakikatnya berbisnis juga bukan hanya mencari keuntungan tetapi menjalin silaturahmi terhadap sesama sehingga bukan demi menghabiskan dagangan hari itu, tetapi juga menjaga silaturahmi agar tetap menjadi pelanggan setia kita maka perlu saling terbuka dan jujur.

Kedua: Bukan semata mengutamakan keuntungan

Bukan mengutamakan keuntungan (profit-oriented) melainkan ta’awun, yaitu saling tolong-menolong. Berbisnis niatnya bukan semata-mata untuk keuntungan sebesar-besarnya tetapi sebagai tolong-menolong terhadap orang lain.

Tidak semua pembeli dari kalangan ekonomi cukup, maka jadikanlah berbisnis sebagai ladang sedekah terhadap pembeli yang membutuhkan. Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita agar berdagang dengan tidak terlalu tinggi menetapkan harga pada satu barang.

Ketiga: Kesungguhan

Kegigihan dan kesungguhan Rasululah SAW dalam berbisnis sudah nampak. Hal ini ketika ia memulai berbisnis di usia dini ketika itu masih usia 12 tahun tetapi ia sudah diberikan tanggung jawab penuh oleh Khodijah untuk menjalankan usaha bisnis khodijah.

Keempat: Pelayanan yang baik

Hal terpenting dalam berbisnis yaitu pelayanan yang baik terhadap para pembeli. Hal ini juga Rasulullah SAW melayani para pembeli dengan ikhlas apalagi bertemu para pembeli yang cerewet ia tetap sabar dalam merespon apa yang diinginkan pembeli.

Kelima: Keadilan

Penjual memiliki barang yang diinginkan para pembeli, maka tentulah banyak yang berdatangan. Rasulullah SAW berlaku adil kepada para pelanggannya. Ia tidak membedakan status dan latar belakang pelanggan ataupun bagaimana hasil peruntungan yang ia dapatkan.

Melainkan ia menunjukkan sikap adil terhadap para pembeli hal inilah yang menjadikan Nabi Muhammad SAW disukai para pembeli dan rezekinya mengalir.

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.