Fadwa Tuqan – penyair perempuan pembela Palestina

Dunia Arab Muhammad Walidin 08-Nov-2020
fadwa-touqan
Fadwa Tuqan © visitpalestine.ps/palestinian-personalities

Sepanjang simbol kunci pada peristiwa Nakbah Palestina (1948) belum menemukan lubangnya, isu tentang Palestina tidak akan pernah kering dari tinta para penyair, termasuk Fadwa Tuqan.

Terinsiprasi oleh tragedi yang terjadi di Palestina, karya-karya fadwa banyak memperlihatkan semangat pemberontakan. Ia dikenal sebagai penyair Arab Modern yang kuat menolak pencaplokan wilayah Palestina oleh Israel.

Mengeksplorasi kesadaran politik Palestina

Hal ini juga tampak dalam puisi penyair Ibrahim Tuqan, saudara sekaligus gurunya dalam berpuisi. Ia persembahkan sebuah karya untuk saudaranya ini sebuah buku kenangan berjudul Akhi Ibrahim atau My Brother Ibrahim (1946).

Fadwa Tuqan memiliki nama lengkap Fadwa Abd al-Fattah Aga Tuqan. Ia lahir tahun 1917 di Nablus, Palestina sesaat sebelum terjadinya Deklarasi Balfour yang memberikan tanah Palestina kepada Israel (2 November 1917).

Ia menjalani pendidikan dasar di sana dan mengakhiri pendidikan di Oxford University tahun 1962-64; tempat di mana ia belajar bahasa dan sastra Inggris. Tempat itu juga sebagai tempat pelarian yang menyenangkan dari berbagai konflik di negaranya, juga sebagai tempat untuk membela bangsanya dengan karya.

Fathoni, dalam Leksikon Sastrawan Arab Modern bahkan menyebutkan bahwa Fadwa telah menyelesaikan  sebanyak tujuh studi akademis untuk program magister dan doktor pada berbagai universitas, baik itu di wilayah Arab maupun di luar Arab.   Ia juga banyak mengikuti festival dan konferensi Arab dan asing.

Dalam berbagai karyanya, seperti Wahdy ma’a al-Ayyam (1952), A’thina Hubba (1960), Amam al-Baab al-Mughlaq (1967), Fadwa mengeksplorasi kesadaran politik Palestina. Ia memotret keterkejutan, keputusasaan, korban, kesabaran yang berlipat-lipat, perlawanan, dan kepercayaan diri.

Puisi-puisi nasionalistis, diterjemahkan ke bahasa Inggris

Puisi-puisinya menjadi lebih nasionalistis ketika Israel telah mengambil Nablus pada tahun 1967. Pendudukan ini memberi tema-tema baru, seperti cobaan saat menunggu di perbatasan, penghinaan, penghancuran rumah, dan semangat pemberontakan anak-anak.

Bagi Fadwa, Israel bukanlah musuh satu-satunya. Masyarakat Arab juga adalah musuh yang nyata, terutama berkenaan dengan wanita. Dalam otobiografinya (Rihlah Jabaliyah: Rihlah Sa’bah atau Mountanous Journey (1990) ia menggambarkan bagaimana perempuan Arab disimpan di rumah seperti burung-burung yang ketakutan dalam kandang yang penuh sesak.

The Guardian.com menyebutkan bahwa Fadwa akhirnya menyedot perhatian internasional setelah puisinya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1980-an. Dampaknya, pemuda Arab-Amerika membaca karyanya untuk menemukan kembali akar mereka. Sementara feminis Israel dan Yahudi menunjukkan resonansi simpatik terhadap sastrawati yang melajang ini.

Karya-karya Fadwa berhasil menghantarkannya ke panggung penghargaan puisi dari Italia (1978, 1992), Yordania (1983), Uni Emirat Arab (1987), Arab Saudi (1994), dan Palestina (1990, 1997). Kehidupan Fadwa juga dijadikan film dokumenter di bawah arahan seorang novelis Liana Badr pada tahun 1999. Fadwa meninggal di Nablus pada tanggal 12 Desember 2003.