Fitnah dan waspada: kita dan orang ketiga

Iman Komiruddin 05-Nov-2020
dreamstime_s_49124970
Fitnah dan waspada: kita dan orang ketiga © Win Nondakowit | Dreamstime.com

Sepanjang sejarah umat ini akan kuat dan takkan ada yang sanggup memecahnya bila musuhnya langsung berhadap hadapan. Dalam perjalanan sejarah yang dapat memecah umat ini bila ada infiltrasi dari luar yang membisikan bahwa umat  dalam bahaya.

Harus diingat bahwa perpecahan di tubuh umat Islam atau dalam satu jamaah biasanya ada orang ketiga yang menyelinap ke dalam shaf. Tugasnya memberikan informasi yang belum tentu benar kepada pemegang kendali atau kekuasaan. Akibatnya satu sama lain timbul kecurigaan yang berujung perpecahan.

Fitnah mampu memporak-porandakan ukhuwah

Apa yang terjadi pada masa sahabat adalah fakta yang dapat diambil ibrahnya. Betapa fitnah mampu memporak-porandakan ukhuwah. Kita tidak meragukan kesalehan Ali r.a dan Muawiyah r.a. Atau ibunda Aisyah r.a dan Zubair ibn Awwam r.a. Tapi hampir akal tidak mempercayainya bahwa mereka dalam peperangan berhadap-hadapan.

Atau yang menimpah suatu jamaah di bumi Kan’an.  Sayyid Quthb adalah guru spiritual dari Jamal Abdul Nashir, mereka berdua dibesarkan dalam satu jamaah. Tapi Jamal juga yang menggantung Sayyid Quthb dan memberangus jamaah yang menghantarkannya pada kekuasaan.

Itulah dasyatnya fitnah. Itu juga sebabnya mengapa Allah SWT mengancam penyebar penyebar fitnah dengan ancaman neraka jahannam dan azab yang membakar.

“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.”

(Surah al-Buruj, ayat 10)

Karena dampaknya yang dasyat, bukan hanya membuat stagnan suatu gerakan tapi dapat menyebabkan kemunduran  dan mengulang dari awal. Bahkan lebih parah dari itu, penghabisan terhadap suatu generasi.

Waspada itu wajib, periksa berita dengan teliti

Apa yang dilakukan Firaun terhadap bayi-bayi bani Israil tidak lain adalah tafsir dari ketakutan akan muncul seseorang yang akan menumbangkan kekuasaannya. Dan tafsir itu dia dapat dari ahli nujum yang bisa jadi mereka hanya mereka-reka saja. Akibat kesalahan tafsir terhadap fenomena yang ada, Firaun menyembelih setiap bayi yang baru lahir.

Kadang pemimpin mengambil keputusan yang tidak tepat, karena kesalahan dalam menafsirkan. Dan bisa jadi tafsir itu datang dari orang orang yang menyimpan iri dan dengki terhadap suatu kelompok yang ada.

Sebab itu waspada itu wajib. Tapi yang diwaspadai adalah para pembisik-pembisik itu. Bukan saudara seperjuangan yang selama ini telah menunjukkan komitmennya terhadap Islam dan dakwah. Terhadap mereka porsinya tabayun atau pemahaman. Dan bila ada perbedaan, mencari titik temu itu adalah solusi.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

(Surah a-Hujurat, ayat 6)