Buletin SalamWebToday
Sign up to get weekly SalamWebToday articles!
Mohon maaf, kesalahan terjadi karena alasan:
Dengan berlangganan, anda menyetujui Persyaratan dan Kebijakan Privasi SalamWeb
 Seni Buletin

Fitnah sekeping hasrat – Zulaikha dan Nabi Yusuf a.s

Al-Quran 05 Feb 2021
Terbaru oleh Roni Haldi Alimi
Fitnah sekeping hasrat - Zulaikha dan Nabi Yusuf a.s
Fitnah sekeping hasrat - Zulaikha dan Nabi Yusuf a.s © Mohamed El Khamisy | Dreamstime.com

Awalnya biasa, namun ketampanan paras dan durasi pertemuan membuat terpesona istri sang pejabat tinggi bernama Zulaikha jatuh. Ujungnya jatuh cinta yang membara. Api cintanya yang menggelora melesatkan panah-panah asmara lewat godaan dan rayuan berbahaya.

Apakah Nabi Yusuf a.s membalasnya? Sama sekali tidak.

Fitnah sekeping hasrat – Zulaikha dan Nabi Yusuf a.s

Cinta Zulaikha hanya cinta bertepuk sebelah tangan. Nabi Yusuf a.s tak membuka peluang walau sesaat menampung hasrat jahat. Sejatinya, Yusuf  bukan tak ada ruang untuk mengakui jua ada keindahan pada sang majikan.

Usaha melampiaskan hasrat terus dipacu agar  obsesi cinta terpendam berwujud nyata. Keberanian sang wanita semakin menjadi-jadi tatkala merasa diri empunya rumah punya kuasa. Dirasa diri tuan yang absolut terhadap budaknya.

Apa daya Nabi Yusuf a.s mengelak apalagi melawan untuk menolak? Ia hanya seorang asing, tak punya saudara lagi keluarga.

“Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata, “Marilah mendekat kepadaku.”

(Quran, surah Yusuf, 12:23)

Pintu-pintu pun ditutup rapat. Zulaikha paham, pelampiasan nafsu cintanya tak boleh menemui kegagalan. Aib besar bakal menggempar bila saja terbongkar hasrat di balik penutupan pintu kamar.

Ada apa gerangan, begitu kecamuk tanya di pikiran andaikata orang-orang mengetahui. Lampiaskan cinta tanpa jejak tercium merebak, begitu harapan diri si wanita. Maka, siasat jahat di rumah sang tuan diatur secara tepat.

Zulaikha mengeluarkan jurus rayuan kata-kata manis. “Haita lak, marilah ke sini, kupersembahkan diriku untukmu, diri ini adalah milikmu.” Ungkapan rayuan yang mengekspresikan gelombang hasrat sang wanita terpandang. Sungguh, inilah adalah puncak ujian cinta yang dialami Nabi Yusuf a.s.

Nabi Yusuf a.s sama sekali bergeming, diam saja dengan rayuan dan godaan itu. Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh Tuanku telah memperlakukanku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang zalim tiada akan beruntung.”

Ikhlas mengajar kita bangkit dari tekanan hidup

Nabi Yusuf a.s ingat kepada Allah Taala dan berlindung kepada-Nya dari perbuatan maksiat dan dosa yang dirayukan wanita itu.

“Yusuf berkata: Aku berlindung kepada Allah, sungguh, Tuanku telah memperlakukanku dengan baik.” Sesungguhnya orang yang zalim itu tidak akan beruntung.”

(Quran, surah Yusuf, 12:23)

Bahaya fitnah wanita ternyata pun tak luput dalam perhatian agama ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan: 

“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki daripada (fitnah) wanita.”

(Hadis riwayat oleh Imam Bukhari dan Muslim)

 

“Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya ia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh, ia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih.”

(Quran, surah Yusuf, 12:24)

Godaan dan rayuan Zulaikha bukannya semakin mengendur. Malah semakin kuat, semakin semangat dan berani. Seandainya Allah SWT tidak menampakkan petunjuk-Nya, hampir-hampir Nabi Yusuf a.s ‘terpeleset’ dan ‘terjerembab’ dalam puncak fitnah.

Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala menjaga hamba-Nya yang ikhlas dan memalingkannya dari melakukan perbuatan as-suu’ wal al-fahsya’.  Demikianlah, tekanan hidup tentu muncul.

Berangkat dari hasrat cinta tak bersambut, lalu berubah wujud fitnah hasrat jahat.  Namun, keikhlasan Nabi Yusuf a.s menerima ujian dan cabaran hidup menjadikannya sebagai contoh hidup keikhlasan. Ikhlas adalah suatu fase ketika kita akan menerima keadaan dan keterbatasan yang kita punya.

Keikhlasan juga adalah keadaan tatkala kita tidak akan terus-terusan terpuruk di bawah tekanan yang membuat kita kian lemah. Ikhlas mengajarkan kita untuk bangkit dari tekanan hidup. Ikhlas juga mendewasakan kita melihat sesuatu dengan sudut pandang yang positif.