Gembira atau sedih – kita dan peristiwa

Kehidupan Komiruddin 12-Nov-2020
dreamstime_s_188568355
Gembira atau sedih - kita dan peristiwa © Sorapop Udomsri | Dreamstime.com

Gembira atau sedih – kita dan peristiwa – hidup ini adalah kumpulan peristiwa-peristiwa. Baik yang menyenangkan atau menyakitkan. Peristiwa-peristiwa yang menyenangkan membuat kita tersenyum dan bahagia.

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: Tuhanku telah memuliakanku.”

(Surah al-Fajr, ayat 15)

Peristiwa dan menyikapinya sebagai takdir berhikmah

Sementara peristiwa-peristiwa menyakitkan akan membuat kita muram dan bersedih hati.

“Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: Tuhanku menghinakanku.”

(Surah al-Fajr, ayat 16)

Sejatinya gembira dan sedih itu tergantung bagaimana cara kita menyikapi peristiwa itu.

Jika kita menyikapinya sebagai takdir yang sudah ditetapkan dan memahami bahwa ada hikmah di balik semua peristiwa, sepahit apapun ia, maka kita akan berlapang dada dan tak akan larut dalam kesedihan.

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”

(Surah al-Hadid, ayat 22)

Sebab boleh jadi apa yang kita tidak sukai itu merupakan kebaikan dan sebaliknya apa yang kita sukai justeru itu yang membahayakan.

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

(Surah al-Baqarah, ayat 216)

Kita adalah milik Allah SWT

Dan begitulah seharusnya sikap seorang beriman, yaitu menyadari bahwa kita ini tidak memiliki apa-apa, bahkan terhadap diri kita sendiri. Kita adalah milik Allah SWT.

“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.”

(Surah al-Baqarah, ayat 156)

Tapi bila kita menganggapnya sebagai bentuk pilih kasih dan ketidakadilan Allah SWT, maka kita akan mengutuk dan larut dalam kegalauan.

Sikap seperti ini persis apa yang digambarkan Allah SWT dalam firman-Nya:

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.”

(Surah al-Hajj, ayat 11)

Demikianlah peristiwa, suka tidak suka akan menimpa kita. Sebab ia rentetan takdir yang pasti dilalui setiap manusia. Hanya dengan berbaik sangka kepada Allah SWT yang akan mengobati kesedihan dan mengusir kegelisahan.