Gerbang takdir kebaikan

Al-Quran Roni Haldi Alimi
Roni Haldi Alimi
Gerbang takdir kebaikan
Gerbang takdir kebaikan © Nanangsholahudin | Dreamstime.com

Sepulang dari Mesir, sepuluh bersaudara seayah lagi serumah Nabi Yusuf ‘alaihis-salam langsung menjumpai sang ayahanda, Nabi Ya’qub ‘alaihis-salam. Memikul beban berat gandum dengan langkah bangga.

Betapa tidak, mereka disambut mesra oleh pejabat penting di Mesir dan disempurnakan sukatan gandum isi karung mereka walaupun ada syarat berat yang mereka bawa.

Hanya tawakal meneguhkan kesabaran

“Lihatlah ayah, bukan hanya disempurnakan sukatan gandum kita, malah barang-barang pengganti yang kami bawa semuanya utuh dikembalikan tak diambil sebagai penukar!”

Tegas jawaban sang ayah, “Aku tidak akan melepaskan Bunyamin pergi bersama kalian, sebelum kalian bersumpah atas nama Allah bahwa kalian akan membawanya kembali pulang bersama.”

Serasa mendapat angin Surga, sepuluh bersaudara itu pun segera secepatnya mengiyakan dan menyanggupi sumpah walaupun mereka tahu akibatnya. Sekali dua kali berlaku bohong, maka akan mudah lagi ringan saja berbohong berikutnya walau dengan mengangkat sumpah sekalipun.

“Ia (Ya’qub) berkata, “Aku tidak akan melepaskannya (pergi) bersama kalian, sebelum kalian bersumpah kepadaku atas (nama) Allah bahwa kalian pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kalian dikepung (musuh).” Setelah mereka mengucapkan sumpah, dia (Ya’qub) berkata, “Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan.”

(Surah Yusuf, 12 ayat 66)

Kepergian sepuluh bersaudara seayah lagi serumah telah mendapatkan izin meskipun diawali dengan di bawah sumpah. Nabi Ya’qub a.s menitipkan pesan berharga kepada mereka, “Wahai anak-anakku! Janganlah kalian masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda.”

Itulah mula takdir yang Allah SWT mulai gariskan terhadap kelanjutan episode kisah bahagia. Gerbang takdir telah mereka lewati, hanya tawakal meneguhkan kesabaran dan keikhlasan Nabi Ya’qub’ a.s.

Gerbang takdir kebaikan

Keyakinan akan takdir baik dari Allah SWT menguat memenuhi ruang hati sanubari Nabi Ya’qub a.s. Berat terasa melepas anak tercinta untuk kali kedua.

“Dan ia (Ya’qub) berkata, “Wahai anak-anakku! Janganlah kalian masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda; namun demikian aku tidak dapat mempertahankan kalian sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan itu hanyalah bagi Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya pula bertawakallah orang-orang yang bertawakal.”

(Surah Yusuf, 12 ayat 67)

Takdir berjalan sesuai keputusan Allah SWT. Dorongan hati karena ingat akan sumpah janji kepada Allah di hadapan ayah mereka. Walaupun berpotensi menyimpang, dorongan hati itu ternyata menempatkan sepuluh bersaudara itu dalam dalam garis takdir Allah.Tak melenceng sejarakpun jua.

Kepahaman yang dimiliki Nabi Ya’qub a.s telah mengantarkan anak-anaknya, sepuluh bersaudara bersama Bunyamin, memasuki gerbang takdir kebaikan.

“Dan ketika mereka masuk sesuai dengan perintah ayah mereka, (masuknya mereka itu) tidak dapat menolak sedikit pun keputusan Allah, (tetapi itu) hanya suatu keinginan pada diri Ya’qub yang telah ditetapkannya. Dan sesungguhnya ia mempunyai pengetahuan karena Kami telah mengajarkan kepadanya. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

(Surah Yusuf, 12 ayat 68)

Dr. Muhammd Iqbal, filosof Islam abad ke-20, berkata:

“Muslim yang lemah menyalahkan takdir Allah. Sedangkan Muslim yang kuat meyakini bahwa takdir Allah itu tidak dapat ditolak dan dikalahkan.”

Kita semua memiliki potensi pemahaman dan pengetahuan terhadap sesuatu yang awalnya kita tidak mengerti. Kadangkala potensi itu hilang saat diri ini lemah, lalu takdir diseret-seret untuk dipersalahkan. Bahkan, mengambing-hitamkan takdir yang sedang berlangsung.

Sudah seharusnya kita kokohkan keyakinan jiwa dan diri atas kekuatan takdir. Setelah itu, berusaha menjalin penuh kesabaran dan keikhlasan. Ujungnya adalah mencapai hakikat tawakal.