Ghassan Kanafani, sastrawan pembela tanah Palestina

Timur Tengah Muhammad Walidin
Muhammad Walidin
Ghassan Kanafani
Ghassan Kanafani © minanews.net

Pada tanggal 08 Juli 1972, Ghassan dibunuh oleh agen Israel dengan bom mobil dalam usia yang sangat muda; 36 tahun. Ia Ghassan Kanafani, sastrawan pembela tanah Palestina.

Walau Israel menyebut bahwa kematiannya sebagai balasan atas peristiwa serangan terhadap Bandara Lod (sekarang Bandara Ben Gurion, di Tel Aviv) dua bulan sebelumnya, tapi khalayak tidak percaya. Israel sebenarnya takut dengan senjata pena Ghassan Kanafani yang berperang di medan lembaran novel-novelnya.

Ghassan Kanafani, sastrawan pembela tanah Palestina

Saat itu, tulisan Ghassan Kanafani memang menjadi salah satu yang paling berpengaruh dalam sastra Palestina modern, bahkan di antara Sastra Arab modern. Ghassan mempublikasikan 6 buah novel, 4 antologi cerpen, 4 buah kritik sastra, dan sebuah naskah drama dan ulasan sejarah. Karya-karyanya diterjemahkan ke dalam 17 bahasa dan diterbitkan di 20 negara.

Dua tahun  setelah tewas (1974), ia mendapat penghaargaan dari Asosiasi Jurnalis Internasional. Pada tahun 1975, ia mendapat anugerah Lotus Prize for Literature oleh Konferensi Penulis Afro-Asia. Di tahun 1990, ia diganjar Piagam Seni dan Budaya al-Quds.

Ghassan bernama lengkap Ghassan Fayiz Kanafani. Ia lahir di kota Akka, Palestina tanggal 9 April 1936. Masa kecilnya yang penuh kecemasan karena serangan Israel membuat keluarganya sering berpindah pengungsian, mulai dari daerah di Palestina, Lebanon, hingga Damaskus.

Ghassan menjadi murid dengan talenta menonjol di bidang sastra dan seni lukis. Ia kuliah di jurusan sastra Arab di Universitas Damaskus. Ia berjuang untuk Palestina di pameran Internasional di Damaskus dengan mengisi stan-stan Palestina dengan karya-karya pribadinya.

Sayangnya, pada tahun ketiga, universitas mengeluarkannya sebab aktivitas politiknya di luar kampus. Studinya ini dilanjutkan lagi saat ia pindah ke Kuwait dan berhasil menyelesaikan studinya dengan tesis, ‘Etnis dan Agama dalam Sastra Yahudi’.

Pada tahun 1955, ia bermigrasi ke Kuwait. Menjadi guru olah raga dan seni lukis adalah takdirnya. Di samping itu, ia terus mengasah kemampuannya menulis sehingga ia diterima menjadi redaktur majalah al-Ra’yu dan mengasuh kolom opini. Tulisannya menarik perhatian. Pada tahun 1960, ia pindah ke Beirut dan tetap menjadi jurnalis di harian al-Hurriyah.

Novel dan antologi cerpen Ghassan Kanafani

Pada tahun 1962, novel berjudul Rajul ti al-Saymsi (Men in the Sun) terbit. Novel ini mendapat banyak perhatian dan kajian. Ia bercerita tentang pelarian para pengungsi dari berbagai generasi yang mencoba menyeberang dari Irak Kuwait akibat Nakba 1948. Novel ini bahkan mengirim pesan perlawanan dengan pertanyaan retoris di akhir cerita, mengapa mereka tidak membenturkan dinding?

Pada tahun 1966, novel Ma Tabaqaa Lakum yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul All That’s Left To You memenangkan penghargaan dari Ashdiqa al-Kuttab.

Antologi cerpennya berjudul Maut Sarir Raqm 12, terbit tahun 1961 di Beirut juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Death of Bed No. 12. Demikian pula antologi cerpennya yang terbit tahun 1963 di Beirut berjudul Ardh al-Burtuqal al-Hazin telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris berjudul The Land of Sad Oranges.

Ghassan Kanafani adalah seorang pengungsi, jurnalis, editor, aktivis politik, dan sastrawan. Namun, yang terpenting bahwa ia adalah seorang penulis dan juru bicara Front Pembebasan Palestina.

Ia seorang komando yang tidak pernah menembakkkan pistolnya, tapi melepas peluru-peluru penanya di arena halaman koran. Selamat jalan Ghassan Kanafani, karyamu abadi!

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.