Haji – menjadi tamu Allah SWT

Haji - menjadi tamu Allah SWT © Sufi70 | Dreamstime.com

Haji adalah rukun Islam yang kelima, penyempurna agama seseorang. Berdasarkan buku karya Gus Arifin berjudul ‘Tip & Trik Ibadah Haji & Umrah’, Haji adalah berkunjung ke Baitullah untuk melakukan beberapa amalan seperti tawaf, sai dan wukuf di Arafah, serta amalan lainnya pada masa tertentu demi memenuhi panggilan Allah SWT dan mengharap rida-Nya.

Haji dilaksanakan setahun sekali tepatnya pada bulan Zulhijah. Beruntunglah kita yang telah dipanggil oleh Allah SWT untuk ke tanah suci Mekkah. Haji menjadi tamu Allah adalah pilihan dari Allah.

Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang mengerjakan haji dan umrah adalah tamu Allah azza wa jalla dan pengunjung-Nya. Jika mereka meminta kepada-Nya niscaya akan diberi. Jika mereka meminta ampun niscaya diterima-Nya doa mereka. Dan jika merek meminta syafaat niscaya mereka diberi syafaat.” (Hadis riwayat Ibnu Majah)

Hadis tersebut mengatakan bahwa kita orang yang berdoa di tanah suci akan dikabulkan. Tempat mustajab untuk berdoa, yaitu di depan Kakbah dengan kesungguhan hati memohon kepada Allah SWT.

Sementara dalam firman-Nya: “Dan diantara kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” (Al-i-Imran, 97)

Panggilan dari Allah SWT sudah tertulis dalam al-Quran hanya saja, Allah akan benar-benar memampukan orang orang yang bertekad untuk berangkat dengan segera. Para jamaah Haji akan merasakan haru, bahagia karena sudah terpilih menjadi tamu Allah SWT.

Allah SWT tidak memanggil orang-orang yang mampu, tapi Allah memampukan orang-orang yang terpanggil. Orang yang bergelimang harta tak menjamin diundang oleh-Nya. Sebaliknya, mereka yang terlihat sederhana ternyata mendapat kesempatan lebih dahulu menuntaskan rukun kelima.

Inilah yang disebut dengan panggilan Allah SWT, menjadi tamu Allah yang istimewa bukan karena uang tetapi dipilih Allah. Tentunya, kita bukan hanya menunggu menjadi pilihan-Nya tetapi diiringi ikhtiar. Ketika hati kita terpanggil untuk berniat berangkat haji maka Allah akan memampukan kita menjadi tamu-Nya.

Ingat sinetron ‘Tukang Bubur Naik Haji’? Ini bukan sembarang cerita fiksi tetapi diambil dari kisah seorang ibu yang berniat berangkat haji tetapi tidak ada biaya, dengan memupuk keyakinan bahwa Allah SWT akan memudahkan jalannya maka berangkatlah ia ke tanah suci.

Lain halnya dengan orang yang kaya tetapi belum tergerak hatinya untuk berangkat ke tanah suci memenuhi panggilan Allah SWT. Mereka lebih memprioritaskan memenuhi kesenangan dunia seperti rumah mewah, kendaraan pribadi atau bisnis yang menggiurkan.

Pada masa pandemi ini, menjadi renungan bagi kita bahwa Allah SWT benar-benar memberikan kepada orang-orang pilihan. Bahkan di Indonesiapun tidak ada yang berangkat ke tanah suci tahun ini.

Maka beruntunglah bagi orang-orang yang Allah SWT beri kesempatan untuk ke tanah suci di masa pandemi ini seperti negara Arab Saudi, meskipun dengan alasan musibah virus corona, inilah tamu spesial Allah. Semoga kita bisa menjadi tamu Allah di tahun berikutnya, aamiin.