Haji yang tertunda

Kehidupan Muhammad Walidin 29-Jun-2020
Baitullah atau Rumah Allah SWT © Abdul Razak Abdul Latif | Dreamstime.com

Namanya Salimah, seorang perempuan desa berumur 60 tahun. Sebagaimana ummat muslim dunia, ia tentu telah memiliki niat berhaji sejak belia. Namun niat itu baru mulai nampak nyata saat ia bersama suaminya mendaftarkan diri ke kementerian agama di kabupaten OKU Selatan. Sejumlah uang RP. 25 juta ia setor ke Bank sebagai syarat pada tahun 2010. Sisanya dibayar pada bulan April 2020. Biaya total haji tahun ini adalah Rp. 34 juta.

Salimah adalah pengajar al-Quran di sebuah desa. Ia menyisihkan sebagian gajinya yang kecil itu untuk dana haji. Bila panen berlebih dari kebutuhan sehari-hari, suaminya juga turut membantu mengisi tabungan haji. Alhamdulillah, selama menabung sejak awal menikah hingga usianya berkepala enam, tabungan mereka cukup untuk pelunasan biaya haji, plus untuk sedikit berbelanja di sana kelak.

Tentu bahagianya tak terkira. Perasaan akan melakanakan rukun Islam yang kelima begitu nyata di depan mata. Air mata bahagia berderai manakalah mengingat perjuangan mereka mengumpulkan sedikit uang dari hasil jerih payah mereka selama ini. Disiapkanya beberapa peralatan haji yang di perlukan di sana. Beberapa pakaian serba putih, mulai dari kerudung dan mukena. Tak ketinggalan juga topi dan sendal. Kabarnya, di sana cuaca panas. Lebih panas dari Indonesia.

Beberapa bulan lalu, ia juga telah mengikuti manasik haji di ibu kota kabupaten. Ia hadir sebanyak tiga kali. Ilmu-ilmu yang disampaikan penceramah ia simak dengan baik. Maklum, di desa tempatnya tinggal, tak banyak orang yang pernah pergi haji sebagai tempat ia bertanya. Ia begitu semangat belajar. Dia berfikir, biarlah ia miskin harta. Tapi janganlah miskin ilmu sehingga mengurangi nilai ibadahnya nanti. Dipelajarinya buku-buku yang diterimanya sebagai paket haji. Ia begitu bersemangat. Hatinya sudah berada di Mekkah, walau kakinya masih di desa.

Meski agak terlambat mendapatkan informasi, akhirnya kabar pemerintah membatalkan perjalanan haji tahun 2020 sampai juga ke telinganya. Secara resmi, pengumuman itu katanya disampaikan menteri agama pada tanggal 02 Juni 2020. Bayangan mengunjungi makam baginda Nabi Muhammad SAW menjadi kabur. Tetapi, ia cukup terhibur dengan kabar bahwa mereka akan berangkat tahun 2021.

Malang, kabar baik tersebut disusul pula kabar duka. Suaminya dijemput tim medis satgas COVID-19 karena terpapar virus corona dari pembeli saat menjual hasil sayuran di pasar kecamatan minggu lalu. Begitu cepat takdir Allah SWT menjemput, suaminya yang memang memiliki riwayat sakit ginjal tersebut akhirnya harus menyerah di tengah wabah. Ia kembali ke pangkuan Tuhannya, sebelum sempat berziarah ke Mekkah.

Salimah adalah wanita desa yang salehah. Di sebuah ceramah, ia sempat mendengar cerita tentang seorang tukang sepatu bernama Muwafiq yang gagal berhaji. Ia menginfakkan biaya hajinya ke tetangga yang makan bangkai hewan karena tak ada bahan makanan. Ia mengatakan inilah sebenarnya perjalanan hajinya.

Tahun itu, sebanyak 600.000 orang yang berhaji tak ada satupun yang mabrur, kecuali haji Muwafiq yang justru tidak pergi berhaji. Salimah wanita salehah. Ia tahu apa yang harus ia lakukan agar suaminya bisa berhaji, walau ia telah pergi.