Hak dan kewajiban suami istri

Pernikahan Roni Haldi Alimi
Terbaru oleh Roni Haldi Alimi
Hak dan kewajiban suami istri
Hak dan kewajiban suami istri © Odua | Dreamstime.com

Perkawinan adalah perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk menempuh kehidupan berumah tangga. Sejak mengadakan perjanjian melalui akad, kedua belah pihak telah terkait dan sejak itulah mereka mempunyai hak dan kewajiban, yang tidak memiliki sebelumnya.

Yang dimaksud hak di sini adalah apa-apa yang diterima seseorang dari orang lain. Sedangkan kewajiban adalah apa yang mesti dilakukan seseorang terhadap yang lain tersebut. Kewajiban timbul karena hak yang melekat pada subjek hukum.

Hak dan kewajiban suami istri

Dari perkawinan inilah terbentuknya sebuah keluarga. Keluarga yang terdiri dari kepala keluarga dan anggota keluarga yang mempunyai pembagian tugas dan kerjanya masing masing. Mempunyai hak kewajiban bagi masing-masing anggotanya yang harus dipahami sebagai salah satu sarana untuk mewujudkan tujuan pernikahan.

Pelaksanaan dan kewajiban dapat diartikan sebagai  pemberian kasih sayang dari satu anggota keluarga kepada anggota keluarga yang lainnya. Sebaliknya, penerimaan hak merupakan penerimaan kasih sayang oleh satu anggota keluarga dari anggota keluarga yang lain.

Maka dengan adanya hak dan kewajiban dalam sebuah  rumah tangga, sehingga dapat mewujudkan suatu keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Seperti yang tertera dalam dalam surah Ar-Rum, ayat 21.

“ dan di antara tanda-tanda (kebesaranNya) ialah Dia mencipatakan pasangan-pasangan untuk mu dari jenis-jenis mu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadaNya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih sayang. Sungguh pada dasar demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.”

Sebaliknya, dalam suatu rumah tangga sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh pola interaksi antara keduanya. Tentunya tidak menutup kemungkinan adanya pengaruh lingkungan di luar rumah.

Untuk melihat suatu rumah tangga dalam keadaan sakinah mawadah warahmah itu dapat dilihat dari bagaimana pola komunikasi suami-istri terbentuk. Dan interaksi hak dan kewajiban di antara keduanya terjalin.

Hak istri atas suami

Hak isteri atas suami terdiri dari dua macam hak finansial, yaitu: mahar dan nafkah. Kedua hak nonfinansial, seperti hak untuk diperlakukan secara adil (apabila sang suami menikahi perempuan lebih dari satu orang) dan hak untuk tidak disengsarakan.

Sedangkan hak yang bersifat non materi, meliputi memuliakan dan menggauli istri dengan baik, menyediakan apa yang dapat ia sediakan untuk isterinya yang akan dapat mengikat hatinya, memperhatikan dan bersabar apabila ada yang tidak berkenan dihatinya.

Di samping berkewajiban mempergauli isteri dengan baik, suami juga wajib menjaga martabat dan kehormatan isterinya, mencegah isterinya jangan sampai hina, jangan sampai isterinya berkata jelek.

Hak suami atas istri

Adapun yang menjadi hak suami yang wajib dipenuhi oleh istri hanya merupakan hak-hak bukan kebendaan. Sebab menurut hukum Islam istri tidak dibebani hak kebendaan yang diperlukan untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga.

Seperti hak taat kepada suami selama tidak bertentangan dengan syariat, tidak berlaku durhaka kepada suami, memelihara kehormatan dan harta suami, berhias untuk suami.

Jelas, bahwa suami dan istri mempuyai hak dan kewajiban dalam keluarga atau rumah tangga. Kewajiban dan hak suami istri merupakan suatu yang timbal balik.

Yakni apa yang menjadi kewajiban suami merupakan hak bagi istri, dan apa yang menjadi kewajiban istri merupakan hak bagi suami. Suami dan istri dituntut untuk melaksanakan kewajiban masing-masing dengan baik. Di samping ada kewajiban masing-masing pihak.