Hakikat penghambaan yang sesungguhnya

Islam untuk Pemula 04 Apr 2021 Komiruddin
Pilihan oleh Komiruddin
Hakikat penghambaan yang sesungguhnya
Hakikat penghambaan yang sesungguhnya © Hikrcn | Dreamstime.com

Salah satu tabiat manusia adalah hubbul baqa’, atau ‘mempertahankan eksistensi’. Hal ini sudah menjadi aksioma yang tak terbantahkan dari semenjak manusia pertama sampai akhir zaman.

Dalam mempertahankan eksistensi manusia membutuhkan dua hal secara bersamaan, yaitu perlindungan dan pertolongan. Perlindungan dari setiap yang membahayakan dan pertolongan dalam memenuhi hajat kehidupan.

Dan kedua hal ini tidak akan didapat kecuali dari pemilik kekuatan, kekuasaan dan kekayaan.

Menyembah karena keyakinan?

Nikmat inilah yang Allah SWT ingatkan kepada kaum kafir Quraisy agar mereka mensyukurinya dengan menyembah hanya kepada Allah, Pemilik Ka’bah. Yaitu nikmat keamanan dan kesejahteraan.

“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.”

(Quran surah Quraish, 106:3)

Para penyembah berhala di zaman jahiliyah sangat mengetahui bahwa berhala yang mereka sembah tak mampu mendengar, berbicara bahkan bergerak, apalagi menolong dan menolak bahaya.

“Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kamu sembah?” Mereka menjawab: “Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya”. Berkata Ibrahim: “Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)? Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat atau mencelakakan kamu?”

(Quran surah As-Syu’ara’, ayat 70-73)

Mereka menyembahnya karena ada keyakinanan bahwa berhala ini sebagai penghubung antaranya dengan pemilik kekuatan, kekuasaan dan kekayaan.

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.”

(Quran surah Az-Zumar, ayat 3)

Keyakinan inilah yang membuat mereka tunduk dan patuh melaksanakan berbagai ritual ibadah walau kadang tidak masuk akal. Sebab kebiasaan ini mereka warisi dari nenek moyang mereka.

Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian”.

(Quran surah As-Syu’ara’, ayat 74)

Apa yang menyebabkan sebagian orang rela melaburi dirinya dengan kotoran kerbau yang bernama Ki Slamet setiap acara  Syuraan  di kraton Solo? Apa yang menyebabkan sebagian mereka yang tinggal di pesisir pantai setiap tahun mengadakan ruwatan laut dengan memotong kerbau dan menghanyutkan kepalanya di laut?

Atau apa yang menyebabkan para petani melakukan ritual tertentu di sawah atau ladang yang akan ditanami? Mereka lakukan itu agar terhindar dari bahaya dan mendapatkan berkah berupa kesejahteraan hidup.

Hakikat penghambaan yang sesungguhnya

Inilah hakikat penghambaan yang sesungguhnya, yaitu melakukan ritual dengan penuh ketaatan dan ketundukan agar terhindar dari bahaya dan dalam waktu yang sama mendapatkan manfaat. Jadi seseorang dapat menjadi hamba jabatan, hamba dinar dan dirham, hamba pakaian, hamba popularitas dan hamba lainnya.

Ketika seseorang menganggap kekuasaan, jabatan, harta, pakaian, popularitas dapat menghindarkan mereka dari bahaya dan memberikan manfaat, sehingga menghalalkan segala untuk mendapatkan atau mempertahankannya, maka ini termasuk diantara makna ‘penghambaan’.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan khamilah (sejenis pakaian yang terbuat dari wool/sutera). Jjika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah.”

(Hadis riwayat Bukhari)

Maka, seluruh bentuk penghambaan selain kepada Allah Taala adalah batil. Sebab semua yang dijadikan obyek penghambaan selain Allah bersifat fana’.

Kekuatan, kekuasaan dan kekayaan yang dimiliki manusia dan ia bergantung kepadanya akan sirna. Dan bergantung kepada yang sirna adalah sebuah kebodohan.

Hanya Allah Yang Maha Kekal dengan segala sifatnya yang sempurna. Maka bergantung kepada Allah SWT dan menghambakan diri pada-Nya adalah kewajiban dan keharusan.

Sebab segala nikmat yang ada seluruhnya dari Allah Yang Maha Kuat, Maha Kuasa dan Maha Kaya.

“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”

(Quran surah Al-Qashsh, ayat 88)